Dinda menerawang jauh menembus
rintik-rintik hujan dari bilik dirinya telah melebur manjadi satu. Di sana
tiada ego yang menjauhkan, hanya ada tali suci jendela kamarnya. Ada rasa rindu
bercampur rasa perih bergumpal-gumpal di dada. Dia kembali duduk di atas tempat
tidur. Lalu dialihkan pandangannya ke sebuah foto.
Kapan cinta berbunga di dalam bulir air mata? Cinta berbunga dalam bulir air mata, akan berbunga apabila antara kamu dan yang mengikat. Cinta yang terbungkus dalam keimanan, mengungguli kekuatan akal dan logika. Itulah Fitrah cintanya pada seseorang yang menjadi impiannya tuk hidup bersama....
“Inilah kata-kata yang ingin ku sampaikan padanya. Namun, ku sudah terlambat, lebih tepatnya ku tak mungkin menyampaikannya,” desahnya dalam batin sembari memandangi foto seseorang. Seseorang yang menjadi cinta pertamanya. Seseorang yang sudah 3 tahun terakhir ini mengisi kesendirian hidupnya. seseorang yang masih ia tunggu .Seseorang itu bernama Fitrah
***
Perkenalannya dengan Fitrah bermula saat Dinda lulus dari
studinya disebuah sekolah menengah pertama hingga ia dinyatakan lulus untuk
melanjutkan studinya ke sebuah SMA favorit. semua itu tak lepas dari dukungan kedua
orang tua dan dua sahabatnya yang juga mendaftar pada sekolah yang sama .
Hari ini ada gladi bersih Dinda di sekolah barunya yang
merupakan awal perkenalan sebelum masuk masa orientasi. Dengan penuh semangat dia
masih sibuk menyiapkan segala sesuatu yang harus ia bawa dalam masa orientasi
ini , tak tanggung-tanggung walaupun
permintaan senior yang menurutnya begitu aneh tetap ia jalankan dengan hati
yang ikhlas .
Dinda bersama kedua sahabatnya nancy dan farah tengah asik
berkeliling disekolah barunya yang masih dalam perbaikan, mengamati dan
memperhatikan satu per satu ruangan yang akan mereka tempati nantinya . ketika
mereka tengah asik mengamati ruangan dilantai dua , perhatian Dinda kini terpaku
pada salah satu ruangan yang tak lagi asing dimatanya. Laboratorium biologi .Dilihatnya
beraneka ragam spesies-spesies makhluk hidup dalam suatu toples yang diawetkan,
tulang tengkorak manusia yang mengingatkannya pada masa smp dimana ia harus menanggung
malu dihukum oleh ibu sinta karena tak mampu menghafal seluruh nama tulang itu.
Nama yang dianggapnya sebagai bahasa alien yang sangat sulit ia cerna . Dinda
hanya mampu tersenyum megingat hal itu . Dan sejak saat itulah semangatnya kini
terpacu untuk menyukai biologi . Karena asik bernostalgia dengan ruangan itu , Dinda
tak sadar kedua sahabatnya tak berada lagi di dekatnya .
Dia kemudian berjalan menyusuri lantai dua ditengah kerumunan
siswa siswi baru sambil mencari kedua
sahabatnya , dan tiba-tiba “bruuukkk… “ sebuah balok dari salah bangunan
tersebut jatuh tepat didepan Dinda membuat orang-orang disekelilingnya
tersontak kaget dengan kejadian itu. Dinda
hanya mampu memejamkan mata jika balok itu tepat mengenai kepalanya . beberapa
saat kemudian Dinda masih trus memejamkan mata , “hei klo jalan hati-hati
donk!!” suara itu terdengar jelas ditelinganya , membuatnya membuka mata segera
. tanpa sadar tubuhnya kini telah diselamatkan oleh sosok pria yang tak
dikenalinya .”Untung saja ku sempat menyelamatkanmu, klo ngak entah apa jadinya.’
sahut pria itu . Dinda yang masih kaget
dengan peristiwa itu mencoba bangkit dari genggaman erat itu “makasih ya karena
kamu telah menyelamatkanku, klo nggak mungkin ku bakal terkapar tak berdaya
ditimpa balok itu.”kata Dinda . “Iya sama-sama , lain kali klo jalan hati-hati”
kata pria itu melanjutkan. Kedua sahabatnya Nancy dan farah kemudian datang menghampirinya
“Ya ampuunnn,,kamu gak papa kan din ? “ sahut mereka panik, “ Iya ku gak papa.”
Jawabnya . “Ya sudah ayo kita kebawah , ortumu kakayaknya sudah nunggu didepan
tuh” kata nancy melanjutkan .”Ku pergi dulu ya, makasih” kata Dinda sambil
melangkah melambai kecil kepada pria itu , yang membuatnya hanya mampu
tersenyum “Dasar aneh!!’ sahutnya dalam batin.
***
Keesokan harinya..
“Kamu dari sekolah mana sih?” suara itu tiba-tiba mengagetkan Dinda,
dilihatnya sosok pria yang menyelamatkan nyawanya kemarin , dia berbadan
tinggi, berbaju putih,dengan dua pita orange yang menempel dikopiahnya sedang
duduk tak jauh dari tempatnya . ya pita itu sama dengan yang dikenakan Dinda
saat itu yang berarti mereka segugus. Dinda tak menyangka sesuatu yang
dianggapnya kebetulan itu terjadi
“A..aku dari MtsN model Makassar.. “ jawabnya dengan tersenyum tapi
dengan nada yang gugup
“Klo gitu salam kenal ku Fitrah, sebenarnya ku
dari jogja dan masih baru disini ,nama kamu siapa ? “ Tanya pria itu dengan tangan tangan
kanan menjulur kedepan, menandakan sebuah awal perkenalannya.
“Dinda Khairunnisa biasa dipanggil Dinda.”
“Nama yang bagus secantik
orangnya.”Astagfirullah pikiran apa ini
!!desah batin pria itu .
"oh iyaa boleh minta nomer
handphone mu ?sekedar hanya bertanya-tanya jikalau ada kepentingan ,maklumlah
ku masih baru di daerah ini, jadi masih belum banyak kenalan .“
Mendengar
permintaan itu , Dinda pun enggan untuk menolak. Dengan raut wajah yang masih
polos ditulisnya deretan 12 angka diatas sebuah sobekan kertas "inii…"sambil memberikan kertas itu.
Ketika mereka sedang berkenalan satu sama
lain , tiba-tiba percakapan mereka terpotong ketika senior memerintahkan para
siswa kembali berbaris. Dan itulah awal perkenalan Fitrah dengan Dinda hingga akhirnya
mereka ditakdirkan untuk selalu duduk dalam kelas yang sama XII IPA 1 yang mereka kenal dengan NEWTON (new generation of exact one)
Senyuman wanita itu kini menggetarkan
jiwanya. Yang pasti, dia tidak mengenali wanita itu dengan sungguh-sungguh . Cinta pandang pertama ketika ia menyelamatkan
wanita itu membibitkan perasaan yang aneh pada dirinya. Dia tidak pernah
merasakan perasaan itu sebelumnya. Menyadari kekhilafannya, Fitrah segera
beristighfar, dia terlalu berlebihan memikirkan seorang wanita yang bukan
mahram baginya. Dia tahu dia tidak sepatutnya berbuat begitu.
***
Setelah perkenalan yang singkat dengan pria itu, Dinda mulai
merasakan sesuatu yang lain yang entah kenapa membuatnya semakin semangat
dengan sekolah barunya .Dinda dan kedua sahabatnya memasuki gerbang sekolah dan
tiba-tiba saja dari kejauhan nampak sosok pria yang tak lagi asing dimatanya ,Fitrah
. Dia begitu canggung tuk melihat sosok itu, tertunduk lalu bergegas
menuju kelas . "Ada apa dengan
cowok itu din ?" tanya Nancy seolah membaca tingkah sahabatnya
"Ah tidak apa-apa." jawabnya
"Baiklah, klo gitu ku ke kelas dulu,
sampai bertemu lagi sepulang sekolah. "
"iyaa thanks ya Nancy.
" Mereka pun menuju ke kelas
masing-masing .
Sesampai di depan kelas Dinda kembali melihat Fitrah di depanya
,ia lalu memalingkan pandanganya seolah tak melihat dan melangkah dengan cepat
masuk kelas .Fitrah yang saat itu melihat tingkah Dinda hanya bisa tersenyum
.
"Ada apa sebenarnya dengan
pria itu , kenapa ku begitu dingin dan malu
bertemu dengannya ? apa ku
memiliki..aghhh.. Ya Allah jangan sampai itu terjadi ,ku terlalu cepat tuk
merasakan semua ini , lindungi hatiku yaa Allah." harap batinya . Sosok pria yang telah menyelamatkannya empat
hari yang lalu selalu menyelimuti pikirannya , walaupun mereka sekelas , tetapi
Dinda merasa dingin hingga enggan untuk
menyapa Fitrah yang selalu sibuk membaca komik ditangannya tetapi walaupun
begitu, Fitrah adalah murid teladan dan berprestasi di sekolahnya . Tak kalah
dengan Dinda yang juga memiliki banyak prestasi khususnya yang berbau eksak .
Tetapi pribadi Dinda yang tertutup dan pemalu seringkali menambah suasana
hening diantara pertemanan mereka .Keakraban diantara keduanya hanyalah sebatas
komunikasi seluler . Nancy dan Farah ,mereka itulah dua sahabat yang menjadi
tumpuan segala keluh kesah dan masalah
yang Dinda alami karena merekalah yang selalu berada di sisi Dinda
hingga keterbukaan mereka satu sama lain tak diragukan lagi .
***
Hari
berganti hari , minggu berganti minggu, bulan berganti bulan ,dan tak terasa
tibalah Dinda dipenghujung kelas XI nya , tetapi perasaannya yang sejak dulu menyiksa
batinnya belum berujung . sosok Fitrah yang dikenalnya tidaklah sama dengan
sosok yang selalu memberinya motivasi walau hanya melalui via seluler seolah
ada dua sosok Fitrah di dalam dirinya , tapi walaupun begitu Dinda merasa
nyaman dengan semua itu . Dinda tau semua
yang dirasakan ini hanyalah sebuah kekaguman .kagum dengan sesuatu yang
dimilikinya, hingga dimata Dinda sosok Fitrah
adalah motivator buatnya yang telah mendorong semangat belajarnya untuk terus
berusaha agar mampu menjadi sosok yang di kaguminya . tetapi Dinda salah .
sebuah kekaguman itu tidak berlangsung lama, tapi perasaan itu semakin hari
semakin bertambah dan semakin terasa aneh. Dia merasa enggan untuk
mengungkapkan semua itu kepada Fitrah yang menjadi lelaki idamannya . Dinda berusaha
menutupi segala yang ia rasakan , hanya kedua sahabatnya yang tau tentang semua
ini .
***
Malam pun
tiba , Perasaan sesak yang ia rasakan makin saja menyelimuti dadanya tiap kali
mendengar nama itu disebut . kini ia duduk termenung di teras rumahnya
memandangi sang rembulan yang tengah asik bercengkrama dengan bintang , angin
dingin sepoi-sepoi menusuk hingga tulang , semakin menambah kegalauannya saat
itu .”Seandainya engkau tauu.. “ucapnya lirih masih dalam lamunanya. Krriiiinnggggggggg………kriiiingggg !!!
Tiba-tiba suara teleponnya berbunyi mebuyarkan pikirannya saat itu. Dilihatnya nama kontak itu bertuliskan ‘Fitrah’
, perasaannya kini makin kacau tak menentu .sosok yang baru saja difikirkannya
kini tiba-tiba menelponnya , ada rasa senang bercampur gugup yang kini ia
rasakan .
“Assalamu’alaikum.”
sapa Fitrah
“Walaikum
Salam.” jawabnya
“
Kamu lagi ngapain din ?”
“Tidak
ngapa-ngapain kok , ada apa fit ?
“Oh
iyaa , aku mau nanya , gimana makalah tugas persentasi besok , udah Kamu siapin
kan ?”
“Iya, semuanya sudah beres.” jawab Dinda
“Baguslah , hanya itu kok .
selamat istirahat yaa.“ ujar Fitrah mengakhiri
"Fiiiitttttt, tunggu dulu..
“cegah Dinda “Mungkin ini saatnya ku mengungkapkan
semuanya” ujarnya dalam hati .
"Halo Din, Ada apa ?
“fittt….A..ada yang ingin ku
katakan, tapi sebelum itu kamu harus janji untuk tidak menertawakanku, bagaimana
?” ujar Dinda gugup
“Ok Dinda . Memangnya mau ngomomg
apa, kok pakai janji segala ? “ ujar Fitrah penasaran
“ Fitrah, ku hanya ingin
menyampaikan sesuatu yang mungkin begitu menyiksa perasaan seseorang jika hal
ini tidak kau ketahui, sudah lama ku ingin mengatakan ini kepadamu , tapi ku takut
kamu akan marah dan menjauhiku , tapi setelah ku pikir-pikir akan sakit bila
rasa ini terus kusimpan." ucapnya dengan suara bergetar
"Kok jadi serius begini ?" Fitrah
dengan sabar mendengar . Dinda kembali
menarik nafas
“Awalnya ku kira perasaan ini
hanyalah perasaan kagum . Rasa kagum kepada orang yang memiliki kelebihan dari
yang ku punya. Maka ku biarkan saja perasaan ini berjalan dengan sendirinya.
Tapi lama-kelamaan perasaan itu semakin jelas apalagi setelah kita sama-sama
menginjak remaja .Mmm.. mungkin kamu sudah tau maksudku Fit” , ujarnya gugup namun
perasaannya kini telah legah
“fit, Aku tau kamu kaget atas
pengakuanku ini , tapi akan menyiksa jika terus memendam semuanya , sekarang
terserah kamu mau meresponnya seperti apa karena Aku pun tidak terlalu berharap
kamu dapat membalasnya karena yang terpenting , semuanya telah kamu ketahui” ujar Dinda melanjutkan
Mendengar pengakuan itu , Fitrah yang juga memiliki perasaan
yang sama kini tak mampu berkata apa-apa ,dirinya tak ingin memberikan harapan
yang lebih kepada sosok yang menjadi cinta pertamanya , dia sangat
menyayanginya lebih dari sekedar teman . tapi lagi-lagi perasaan itu hanya
mampu ia pendam , cinta suci yang ia miliki tak ingin ia nodai yang pada
akhirnya akan menyakiti Dinda jikalau hubungan itu harus berakhir ditengah
jalan karena belum adanya ikatan suci diantara mereka seperti kebanyakan remaja
saat ini .Semuanya sudah ia fikirkan dengan matang. Dirinya sangat dilema saat
ini antara harus membalas atau terus memendam cintanya hingga suatu saat nanti
ikatan suci yang akan mempertemukan mereka .
“Diinn,, jujur Aku sangat kagum atas keberanian mu ngungkapin
semuanya . Tapi maaf Din aku belum mampu untuk menjawabnya sekarang” ujar Fitrah ditengah keheningan.
“Tapi kenapa Fit ?”
“Karena semua pasti akan indah pada waktunya , dan jika Allah
mengizinkanku maka Aku janji lima tahun yang akan datang aku akan menemui mu
tuk menjawabnya . oh iya sekalian aku ingin
pamit kalau besok lusa aku akan ikut kedua orang tuaku ke Singapura dan mungkin
ku akan melanjutkan sekolah disana ,maaf
ya din kalau semuanya begitu mendadak kamu ketahui , ku hanya tak ingin orang-orang
tau kepergian itu yang nantinya merubah sikap mereka . jaga
dirimu baik-baik dan ku harap Dinda yang
nantinya ku kenal akan sama dengan Dinda yang sejak awal ku kenal atau bahkan
jauh lebih baik , jadilah wanita sholehah yang berguna bagi bangsa dan agama.
Sekarang sudah larut malam , beristirahatlah wassalam .”, ujar Fitrah
mengakhiri pembicaraan .
Mendengar jawaban , nasehat dan pamitan kepergiannya itu ,Dinda
hanya terpaku tanpa kata dan tak terasa
air mata kini membanjiri pipinya . penantian yang sejak awal bertemu telah ia
pendam kini belum mendapatkan jawaban . Tapi Dinda akan selalu ingat dengan
janji Fitrah bahwa lima tahun yang akan
datang dia akan menemuinya untuk menjawab
segala penantiannya itu . Kini ia
berjanji selama kepergiannya, ia akan berusaha untuk memperbaiki diri menjadi
lebih baik, menjadi wanita sholehah bukan sebatas karena keinginan Fitrah
tetapi karena keinginannya yang telah ingin membatasi diri dari pergaulan yang
akan berdampak buruk bagi agamanya . Sejak saat itu pula, tak pernah lagi ada
kabar dari Fitrah tetapi, Dinda akan selalu menutup hatinya untuk orang lain guna menunggu
jawaban setelah Fitrah kembali .
***
5 TAHUN KEMUDIAN..
“KRINGGG…KRIIINNGGG!!!” telepon Dinda
berbunyi
Dinda yang saat itu tengah
terlelap, tiba-tiba dikejutkan oleh suara telpon yang berbunyi .”Huuuaaahh..siapa
sih yang pagi-pagi udah nelpon ..”gerutunya sambil meraih telpon diatas
meja . “Siapa ini ?.” raut penasaran kini menyelimutinya segera ia mengangkat
telpon dari nomor yang tak dikenalnya .
“Assalamu’Alaikum
Dinda” .Suara berat cowok yang tak lagi asing ditelinga kini terdengar ,
mengingatkannya pada sosok Fitrah lima tahun silam
“Walaikum
Salam, hmm sepertinya ku kenal suara ini,, ,, ii..ini Fitrah ya? “ Tanya Dinda
penasaran .
“iyaa
din, ini Fitrahh . gak nyangka yaa kamu masih ingat denganku, gimana kabarnya
din ?”
“Apa
? jadii betul ini Fitrahh?” Tanyanya makin penasaran
“Iya
din, ini aku Fitrah .Fitrah Abdurrahman teman SMA mu dulu” , jawab pria itu
meyakinkan
“Alhamdulillah
kabar baik , kenapa kamu baru muncul ?”
“Maaf
ya din, selama ini ku tidak pernah memberi kabar padamu . soalnya waktu aku berangkat ke singapura handphone ku hilang
dan tak ada satupun nomor yangku ketahui, itupun nomer telepon kamu baru aku
dapat dari Nancy yang menjadi pramugari di pesawat yang aku tumpangi kemarin . Aku
datang untuk memenuhi janji padamu din , janji tuk menjawab pertanyaan lima tahun silam hmm,, apa kamu sudah
memiliki pendamping din ?” Guman pria itu
“Saat
kepergianmu, aku yakin dan percaya kamu pasti akan kembali menemuiku . hingga
tak ada seorangpun yang mampu menggantikan posisi mu. Hmm,, Belum Fitrahh. Aku
masiih menunggu jawaban ” Ujarnya .
“Baiklah
kalau begitu , sore ini jika kamu punya waktu temui Aku di tepi jalan dekat
sekolah, tempat kita dulu bertemu”
“Iya..Iyaa
ku pasti punya waktu” jawabnya
***
Disanalah
Dinda sekarang bersama Farah menunggu seseorang. Di tepi jalan, tempat biasa ia
menunggu angkot. Setelah beberapa kali Dinda memohon, akhirnya Farah menyetujui
pertemuan dengan pria itu, pria yang menjadi masa lalunya .jam sudah
menunjukkan pukul 05.00 dua jam sudah mereka berdiri di tepi jalan itu ,tetapi
seorang yang ditunggunya tak kunjung datang . berkali-kali ia menengok ke
ponselnya tapi tak ada satupun pesan yang masuk , kini Dinda semakin khawatir
dengan sosok pria itu hingga memacu adrenalinnya tuk mendegup kencang. “Itu dia!” seru Dinda loncat-loncat
kegirangan seraya mengarahkan jari telunjuknya ke sebrang jalan. Farah
mengikuti arah itu. Didapatinya sosok seorang lelaki yang cukup membuatnya
tercengang. Sosok yang biasa ia liat mengenakan celana jeans dan penampilan
sederhana, kini mengenakan kemeja putih panjang dipadu dengan celana bahan
hitam diatas tumit. Penampilannya, berubah 180⁰. Dia terlihat sangat rapih dan bersih. Lelaki itu melambaikan
tangan. Ingin rasanya Dinda melangkah kesana, Namun Farah langsung mencegahnya.
Farah bilang lelaki itulah yang akan menghampirinya. Akhirnya Dinda memutuskan
untuk sabar menanti, hingga jalanan ramai itu, sepi kendaraan.
Akhirnya jalan itu sepi setelah penantian selama tiga menit yang terasa setahun. Pria itu melangkah membelah jalanan, hingga sampai saat di tengah jalan, ia memandang sesuatu yang tergeletak disana lalu memungutnya. Dari arah barat ada sebuah truk kontainer melaju dengan cepat, jaraknya, semakin dekat dengan pria itu.
Di tepi jalan itu, Dinda melihatnya. Hatinya tercabik, ingin rasanya ia berlari ketengah jalan itu dan menghempaskan semua yang ada selain lelaki itu. Tapi berapa banyak waktu yang Dinda butuhkan untuk menghempaskan yang ada disana? Satu menit? Atau dua menit? Entahlah. Yang jelas truk itu hanya butuh sepersekian detik untuk melindas apa saja yang ada di hadapannya.
“Hari,, ini aku,, akan menjawabnyaa,,.” Lelaki itu tergeletak di
tengah aspal yang dibanjiri cairan kental berwarna merah. Kemeja putih itu kini
berubah menjadi merah. Bukan karena pewarna, tapi karena darah pria itu. Bulir
air mata Dinda mengalir deras.
“Berhentilah bicara. Sebentar lagi ambulance datang.” Pinta Dinda pilu.
Fitrah menggerakkan tangannya perlahan, susah payah menahan rasa sakit. Dilihatnya sebuah benda di tangan yang berlumuran darah itu..“A..ambil ini din, ini untukmu, dan walaupun ku telah tiada ku akan selalu ada disini, dihati ini . ku,, takut jika menatapmu,ku akan lupa, jika kekasih sejati kita adalah,, Allah.karena Dia-lah yang mempertemukan kita ” Hati Dinda bagai tersiram air hujan, keinginan hatinya untuk mendengar jawaban dari bibir lelaki itu terwujud. Tapi dalam keadaan memilukan seperti ini. Pantaskah ia berbahagia? Egoiskah ia? Air mata Dinda semakin tak dapat terbendung. Lelaki itu bersusah payah mengucapkan “Lailahaillallah.” Hingga akhirnya ia menutup mata menuju alam lain tuk menghadap Rabb-Nya. Meski matanya tertutup, lubuk hatinya masih bersua, “Terima kasih Allah. Karena telah memberiku napas hingga ku mampu mememenuhi janjiku. Terima kasih karena engkau memberikanku limpahan nikmat yang tiada tara selama hidupku.”
“Berhentilah bicara. Sebentar lagi ambulance datang.” Pinta Dinda pilu.
Fitrah menggerakkan tangannya perlahan, susah payah menahan rasa sakit. Dilihatnya sebuah benda di tangan yang berlumuran darah itu..“A..ambil ini din, ini untukmu, dan walaupun ku telah tiada ku akan selalu ada disini, dihati ini . ku,, takut jika menatapmu,ku akan lupa, jika kekasih sejati kita adalah,, Allah.karena Dia-lah yang mempertemukan kita ” Hati Dinda bagai tersiram air hujan, keinginan hatinya untuk mendengar jawaban dari bibir lelaki itu terwujud. Tapi dalam keadaan memilukan seperti ini. Pantaskah ia berbahagia? Egoiskah ia? Air mata Dinda semakin tak dapat terbendung. Lelaki itu bersusah payah mengucapkan “Lailahaillallah.” Hingga akhirnya ia menutup mata menuju alam lain tuk menghadap Rabb-Nya. Meski matanya tertutup, lubuk hatinya masih bersua, “Terima kasih Allah. Karena telah memberiku napas hingga ku mampu mememenuhi janjiku. Terima kasih karena engkau memberikanku limpahan nikmat yang tiada tara selama hidupku.”
***
Wanita berjilbab itu menitikkan air mata mengingatnya. “Dinda.”
Panggil lelaki yang mengenakan kemeja putih yang sedang bergandengan tangan
dengan anak kecil berumur lima tahun. Lelaki itu adalah Dimas, suami Dinda. Dan
anak kecil itu adalah Hanif, anaknya. Dilihatnya Hanif memungut sesuatu yang
ada di pinggir jalan, lalu memasukkannya kedalam tong sampah yang ada disana.
Dinda tersenyum melihat tingkah jagoannya. Begitu mirip dengan seseorang. Seseorang yang telah mengajarkannya akan arti dari penantian .Penantian tuk menjaga cinta agar tetap jalan pada Fitrahnya yang merupakan anugrah yang tak ternilai oleh apapun. Termasuk udara yang ia hirup setiap harinya. Itu hanya satu dari jutaan debu kenikmatan yang Ia berikan. Kenikmatan yang terasa paling indah adalah ketika pertemuan dan perpisahan di tepi jalan ini. “Terima kasih Allah. Karena engkau telah mempertemukanku dengan Dimas, lelaki itu.” Dinda melangkah beriringan dengan keluarga kecilnya, menuju masjid tempat paling suci dalam agamanya.
Nama :
Nur Azizah Junaid
TTL : Makassar, 21 Desember 1995
Twitter : @ieychaaNur
Email : nuza95@yahoo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar