Dinda menerawang jauh menembus
rintik-rintik hujan dari bilik dirinya telah melebur manjadi satu. Di sana
tiada ego yang menjauhkan, hanya ada tali suci jendela kamarnya. Ada rasa rindu
bercampur rasa perih bergumpal-gumpal di dada. Dia kembali duduk di atas tempat
tidur. Lalu dialihkan pandangannya ke sebuah foto.
Kapan cinta berbunga di dalam bulir air mata? Cinta berbunga dalam bulir air mata, akan berbunga apabila antara kamu dan yang mengikat. Cinta yang terbungkus dalam keimanan, mengungguli kekuatan akal dan logika. Itulah Fitrah cintanya pada seseorang yang menjadi impiannya tuk hidup bersama....
“Inilah kata-kata yang ingin ku sampaikan padanya. Namun, ku sudah terlambat, lebih tepatnya ku tak mungkin menyampaikannya,” desahnya dalam batin sembari memandangi foto seseorang. Seseorang yang menjadi cinta pertamanya. Seseorang yang sudah 3 tahun terakhir ini mengisi kesendirian hidupnya. seseorang yang masih ia tunggu .Seseorang itu bernama Fitrah
***
Perkenalannya dengan Fitrah bermula saat Dinda lulus dari
studinya disebuah sekolah menengah pertama hingga ia dinyatakan lulus untuk
melanjutkan studinya ke sebuah SMA favorit. semua itu tak lepas dari dukungan kedua
orang tua dan dua sahabatnya yang juga mendaftar pada sekolah yang sama .
Hari ini ada gladi bersih Dinda di sekolah barunya yang
merupakan awal perkenalan sebelum masuk masa orientasi. Dengan penuh semangat dia
masih sibuk menyiapkan segala sesuatu yang harus ia bawa dalam masa orientasi
ini , tak tanggung-tanggung walaupun
permintaan senior yang menurutnya begitu aneh tetap ia jalankan dengan hati
yang ikhlas .