Dia adalah gurunya kaum laki-laki, seorang wanita yang suka
kebenaran, putri dari seorang laki-laki yang suka kebenaran, yaitu Khalifah Abu
Bakar dari suku Quraisy At-Taimiyyah di Makkah, ibunda kaum mukmin, istri
pemimpin seluruh manusia, istri Nabi yang paling dicintai, sekaligus putri dari
laki-laki yang paling dicintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim, bahwa ‘Amr bin ‘Ash Rodhiallahu
‘anhu pernah bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam:
“Siapakah orang yang paling engkau cintai, wahai Rasulullah?" Rasul
menjawab: '''Aisyah.'' 'Amr bertanya lagi: "Kalau laki-laki?" Rasul
menjawab: "Ayahnya.
Selain itu Aisyah adalah wanita yang dibersihkan namanya langsung
dari atas langit ketujuh. Dia juga adalah wanita yang telah membuktikan kepada
dunia sejak 14 abad yang lalu bahwa seorang wanita memungkinkan untuk lebih
pandai daripada kaum laki-laki dalam bidang politik atau strategi perang.
Wanita ini bukan lulusan perguruan tinggi dan juga tidak pernah
belajar dari para orientalis dan dunia Barat. Ia adalah murid dan alumni
madrasah kenabian dan madrasah iman. Sejak kecil ia sudah diasuh oleh seorang
yang paling utama, yaitu ayahnya, Abu Bakar. Ketika menginjak dewasa ia diasuh
oleh seorang nabi dan guru umat manusia, yaitu suaminya sendiri. Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam. Dengan demikian, terkumpullah dalam dirinya ilmu,
keutamaan, dan keterangan-keterangan yang menjadi referensi manusia sampai saat
ini. Teks hadits-hadits yang diriwayatkannya selalu menjadi bahan kajian di
fakultas-fakultas sastra, sebagai kalimat yang begitu tinggi nilai sastranya.
Ucapan dan fatwanya selalu menjadi bahan kajian di fakultas-fakultas agama,
sedang tindakan-tindakannya menjadi materi penting bagi setiap pengajar mata
pelajaran/mata kuliah sejarah bangsa Arab dan Islam.
Pernikahan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengannya
merupakan perintah langsung dari Allah 'Azza wa jalla setelah
wafatnya Khadijah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari
'Aisyah Rodhiallahu ‘anha, dia berkata: "Rasulullah Sholallahu
‘alaihi wasallam pernah bersabda: 'Aku pernah melihat engkau dalam
mimpiku tiga hari berturut-turut (sebelum aku menikahimu). Ada malaikat yang
datang kepadaku dengan membawa gambarmu yang ditutup dengan secarik kain
sutera. Malaikat itu berkata: 'Ini adalah istrimu'. Aku pun lalu membuka kain
yang menutupi wajahmu. Ketika ternyata wanita tersebut adalah engkau ('Aisyah),
aku lalu berkata: 'Jika mimpi ini benar dari Allah, kelak pasti akan menjadi
kenyataan.''’
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menikahi 'Aisyah dan
Saudah pada waktu yang bersamaan. Hanya saja pada saat itu Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam tidak langsung hidup serumah dengan 'Aisyah. Setelah
kurang lebih tiga tahun hidup serumah dengan Saudah, tepatnya pada bulan Syawal
setelah perang Badar, barulah beliau hidup serumah dengan 'Aisyah. 'Aisyah
menempati salah satu kamar yang terletak di komplek Masjid Nabawi. yang terbuat
dari batu bata dan beratapkan pelepah kurma. Alas tidurnya hanyalah kulit hewan
yang diisi rumput kering; alas duduknya berupa tikar; sedang tirai kamarnya
terbuat dari bulu hewan. Di rumah yang sederhana itulah 'Aisyah memulai
kehidupan sebagai istri yang kelak akan menjadi perbincangan dalam sejarah.
Pernikahan bagi seorang wanita adalah sesuatu yang utama dan penting. Setelah
menikah, seorang wanita akan menjadi istri dan selanjutnya akan menjadi seorang
ibu. Kekayaan dunia sebanyak apa pun, kemuliaan setinggi awan, kepandaian yang
tak tertandingi, dan jabatan yang begitu tinggi, sekali-kali tidak akan ada
artinya bagi seorang wanita jika tidak menikah dan tidak mempunyai suami, sebab
tidaklah mungkin bahagia seseorang yang berpaling dari fitrahnya.
Dalam kehidupan berumah tangga, 'Aisyah merupakan guru bagi setiap wanita di
dunia sepanjang masa. Ia adalah sebaik-baik istri dalam bersikap ramah kepada
suami, menghibur hatinya, dan menghilangkan derita suami yang berasal dari luar
rumah, baik yang disebabkan karena pahitnya kehidupan maupun karena rintangan
dan hambatan yarig ditemui ketika menjalankan tugas agama.
'Aisyah adalah seorang istri yang paling berjiwa mulia, dermawan, dan sabar
dalam mengarungi kehidupan bersama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi
wasallam yang serba kekurangan, hingga pernah dalam jangka waktu yang
lama di dapurnya tidak terlihat adanya api untuk pemanggangan roti atau
keperluan masak lainnya. Selama itu mereka hanya makan kurma dan minum air
putih.
Ketika kaum muslim telah menguasai berbagai pelosok negeri dan kekayaan datang
melimpah, 'Aisyah pernah diberi uang seratus ribu dirham. Uang itu langsung ia
bagikan kepada orang-orang hingga tak tersisa sekeping pun di tangannya,
padahal pada waktu itu di rumahnya tidak ada apa-apa dan saat itu ia sedang
berpuasa. Salah seorang pelayannya berkata: "Alangkah baiknya kalau engkau
membeli sekerat daging meskipun satu dirham saja untuk berbuka puasa!" Ia
menjawab: "Seandainya engkau katakan hal itu dari tadi, niscaya aku
melakukannya.
Dia adalah wanita yang tidak disengsarakan oleh kemiskinan dan tidak
dilalaikan oleh kekayaan. Ia selalu menjaga kemuliaan dirinya, sehingga dunia
dalam pandangannya adalah rendah nilainya. Datang dan perginya dunia tidaklah
dihiraukannya.
Dia adalah sebaik-baik istri yang amat memperhatikan dan
memanfaatkan pertemuan langsung dengan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi
wasallam, sehingga dia menguasai berbagai ilmu dan memiliki kefasihan
berbicara yang menjadikan dirinya sebagai guru para shahabat dan sebagai
rujukan untuk memahami Hadits, sunnah, dan fiqih. Az-Zuhri berkata:
"Seandainya ilmu semua wanita disatukan, lalu dibandingkan dengan ilmu
'Aisyah, tentulah ilmu 'Aisyah lebih utama daripada ilmu mereka."1
Hisyam bin 'Urwah meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata: "Sungguh aku
telah banyak belajar dari 'Aisyah. Belum pernah aku melihat seorang pun yang
lebih pandai daripada 'Aisyah tentang ayat-ayat Al-Qur'an yang sudah
diturunkan, hukum fardhu dan sunnah, syair, permasalahan yang ditanyakan
kepadanya, hari-hari yang digunakan di tanah Arab, nasab, hukum, serta
pengobatan. Aku bertanya kepadanya: 'Wahai bibi, dari manakah engkau mengetahui
ilmu pengobatan?' 'Aisyah menjawab: 'Aku sakit, lalu aku diobati dengan
sesuatu; ada orang lain sakit juga diobati dengan sesuatu; dan aku juga
mendengar orang banyak, sebagian mereka mengobati sebagian yang lain, sehingga
aku mengetahui dan menghafalnya. "'2
Dalam riwayat lain dari A'masy, dari Abu Dhuha dari Masruq, Abud Dhuha berkata:
"Kami pernah bertanya kepada Masruq: 'Apakah 'Aisyah juga menguasai ilmu
faraidh?' Dia menjawab: 'Demi Allah, aku pernah melihat para shahabat Nabi Sholallahu
‘alaihi wasallam yang senior biasa bertanya kepada 'Aisyah tentang
faraidh. "'3
Selain memiliki berbagai keutamaan dan kemuliaan, 'Aisyah juga memiliki
kekurangan, yakni memiliki sifat gampang cemburu. Bahkan dia termasuk istri
Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam yang paling besar rasa
cemburunya. Rasa cemburu memang termasuk sifat pembawaan seorang wanita. Namun
demikian, perasaan cemburu yang ada pada 'Aisyah masih berada dalam batas yang
wajar dan selalu mendapat bimbingan dari Nabi, sehingga tidak sampai melampaui
batas dan tidak sampai menyakiti istri Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam yang
lain.
Di antara kejadian paling menggelisahkan yang pernah menimpa 'Aisyah adalah
tuduhan keji yang terkenal dengan sebutan Haditsul ifki (berita
bohong-Insyaa Allah akan dibahas diKIS.com di pembahasan yang lain) yang
dituduhkan kepadanya, padahal diri 'Aisyah sangat jauh dengan apa yang
dituduhkan itu. Akhirnya, turunlah ayat Al-Qur'an yang menerangkan kesucian
dirinya. Cobaan yang menimpa wanita yang amat utama ini merupakan pelajaran
berharga bagi setiap wanita, karena tidak ada wanita di dunia ini yang bebas
dari tuduhan buruk.
Ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sakit
sekembalinya dari haji Wada' dan merasa bahwa ajalnya sudah dekat, setelah
dirasa selesai dalam menunaikan amanat dan menyampaikan risalah, beliau lalu
berkeliling kepada istri-istrinya sebagaimana biasa. Pada saat membagi jatah
giliran kepada istri-istrinya itu beliau selalu bertanya: "Di mana saya
besok? Di mana saya lusa?" Hal ini mengisyaratkan bahwa beliau ingin
segera sampai pada hari giliran 'Aisyah. Para istri Nabi yang lain pun bisa mengerti
hal itu dan merelakan Nabi untuk tinggal di tempat istri yang mana yang beliau
sukai selama sakit, sehingga mereka semuanya berkata: "Ya Rasulullah, kami
rela memberikan jatah giliran, kami kepada 'Aisyah.4
Kekasih Allah itu pun pindah ke rumah istri tercintanya. Di sana 'Aisyah dengan
setia menjaga dan merawat beliau. Bahkan saking cintanya, sakit yang diderita
Nabi itu rela 'Aisyah tebus dengan dirinya kalau memang hal itu memungkinkan.
'Aisyah berkata: "Aku rela menjadikan diriku, ayahku, dan ibuku sebagai
tebusanmu, wahai Rasulullah." Tak lama kemudian Rasul pun wafat di atas
pangkuan 'Aisyah.
'Aisyah melukiskan detik-detik terakhir dari kehidupan Rasulullah Sholallahu
‘alaihi wasallam sebagai berikut: "Rasulullah Sholallahu
‘alaihi wasallam meninggal dunia di rumahku, pada hari giliranku, dan
beliau bersandar di dadaku. Sesaat sebelum beliau wafat, 'Abdur Rahman bin Abu
Bakar (saudaraku) datang menemuiku sambil membawa siwak, kemudian Rasulullah Sholallahu
‘alaihi wasallam melihat siwak tersebut, sehingga aku mengira bahwa
beliau menginginkannya. Siwak itu pun aku minta, lalu kukunyah (supaya halus),
kukebutkan, dan kubereskan sebaik-baiknya sehingga siap dipakai. Selanjutnya,
siwak itu kuberikan kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam. Beliau
pun bersiwak dengan sebaik-baiknya, sehingga belum pernah aku melihat cara bersiwak
beliau sebaik itu. Setelah itu beliau bermaksud memberikannya kembali
kepadaku, namun tangan beliau lemas. Aku pun mendo'akan beliau dengan do'a yang
biasa diucapkan Jibril untuk beliau dan yang selalu beliau baca bila beliau
sedang sakit. (Alloohumma robban naasi... dst.) Akan tetapi, saat
itu beliau tidak membaca do'a tersebut, melainkan beliau mengarahkan
pandangannya ke atas, lalu membaca do'a: 'Arrofiiqol a'laa (Ya
Allah, kumpulkanlah aku di surga bersama mereka yang derajatnya paling tinggi:
para nabi, shiddiqin, syuhada', dan shalihin). Segala puji bagi Allah yang
telah menyatukan air liurku dengan air liur beliau pada penghabisan hari beliau
di dunia.5
Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam dimakamkan di kamar
'Aisyah. tepat di tempat beliau meninggal. Sepeninggal Rasulullah, 'Aisyah
banyak menghabiskan waktunya untuk memberikan ta'lim. baik kepada kaum
laki-laki maupun wanita (di rumahnya) dan banyak berperan serta dalam mengukir
sejarah Islam sampai wafatnya. 'Aisyah wafat pada malam Selasa bulan Ramadhan
tahun 57 Hijriyah pada usia 66 tahun.6
Para generasi sepeninggal 'Aisyah selalu mengkaji dan meneliti detail
kehidupannya sejak usia 6 tahun, dengan harapan bisa mengambil hikmah dan ibrah
dari model tarbiyyah (pendidikan) yang telah membentuk pribadi beliau menjadi
figur tunggal yang belum ada duanya sejak empat belas abad silam.
1) Baca Al-Mustadrak IV/11, pembahasan tentang
Pengetahuan para shahabat, oleh Al-Hakim; dan Majma'uz Zawaa'id
IX/245 oleh Al-Haitsami. Al-Haitsami berkata: "Hadits ini juga
diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dengan rawi yang tepercaya."
2) Baca Hilyatul Auliya' II/49. Riwayat ini
memiliki rawi yang tsiqqah.
3) Hadits ini diriwayatkan oleh Darimi dalam As-Sunan II/342, Ibnu
Sa'd dalam At-Thabaqat VIII/66, dan Hakim dalam Al-Mustadrak
IV/11.
4) Baca Shahih Muslim, kitab Keutamaan Para Shahabat,
bab Keutamaan Aisyah Rodhiallahu ‘anha.
5) Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (Al-Musnad V1/48)
dan Hakim (Al-Mustadrak 1V/7). Hakim berkata: "Hadits ini
shahih berdasarkan syarat yang ditetapkan Bukhari dan Muslim." Adz-Dzahabi
juga sepakat atas keshahihan Hadits ini.
6) Baca Al-Istii'aab IV/1885 dan Taariikhut
Thabari (Peristiwa-peristiwa pada tahun 58 Hijriyah).
Sumber: Nisaaun hoularrosuul warrodda ‘alaa muftaroo yaatil
mustasyriqoini.