Pages

Sabtu, 22 Oktober 2016

Prinsip Percobaan Dalam Fitokimia

1.    Prinsip Ekstraksi
a.    Prinsip Maserasi
Maserasi dilakukan dengan cara merendam simplisia dalam cair an penyari, cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam dan di luar sel, maka larutan yang terpekat akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari yang lain. Peristiwa tersebut berulang hingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel

b.    Prinsip Perkolasi
Merupakan sistem penyarian dimana serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, sehingga cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh.
c.    Prinsip Soxhletasi
Penyarian zat aktif secara berkesinambungan dimana larutan penyari di dalam labu alas bulat dipanaskan dan menguap menuju kondensor melalui pipa samping. Hasil kondensasi turun menyari sampel dalam klonsong dan hasil penyarian sampel akan turun kembali ke labu alas bulat melalui siphon serta mengalami pemanasan dan menguap kembali. Proses ini berlangsung terus-menerus sampai zat aktif dalam sampel tersari sempurna ditandai oleh warna bening cairan penyari pada siphon.
d.    Prinsip Refluks
Penyarian komponen zat aktif secara berkesinambungan dimana sampel dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-sama dengan cairan penyari dipanaskan dan akan menguap ke kondensor, terjadi proses kondensasi yang akan turun kembali menuju labu alas bulat dan akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas bulat, demikian seterusnya sampai penyarian sempurna dan dilakukan penggantian pelarut sebanyak 3 kali setiap 4 jam
e.    Prinsip Destilasi Uap Air
Penyarian minyak menguap dan komponen kimia yang mempunyai titik didih tinggi pada tekanan udara normal dengan adanya pemanasan kecil uap air akan menguap kembali bersama minyak menguap dan dikondensasikan oleh kondensor sehingga terbentuk molekul-molekul air yang menetes ke dalam corong pisah penampung yang telah diisi dengan air, penyulingan dilakukan hingga sempurna.
2.    Prinsip Rotavapor
Proses pemisahan ekstrak dari cairan penyarinya dengan pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu alas bulat, cairan penyari dapat menguap 5-100C dibawah titik didih pelarutnya disebabkan oleh adanya penurunan tekanan. Dengan bantuan pompa vakum, uap larutan penyari akan menguap naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat penampung.
3.    Prinsip Ekstraksi Cair-Cair
Ekstraksi cair-cair (corong pisah) merupakan pemisahan komponen kimia diantara dua fase pelarut yang tidak dapat saling bercampur dimana sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagiannya lagi larut pada fase kedua. Kedua fase yang mengandung zat terdispersi dikocok, lalu didiamkan sampai terjasi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan fasa zat cair. Komponen kimia akan terpisah ke dalam kedua fasa tersebut sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi yang tetap.
4.    Prinsip Ekstraksi Cair-Padat
Ekstraksi padat-cair didefinisikan sebagai operasi pemisahan zat padat yang dapat larut melalui kontak dengan pelarut. Setelah terjadi kontak padatan dengan pelarut maka perbedaan konsentrasi aktivitas kimia solute di dalam fasa padatan dengan fasa pelarut menjadi gaya pendorong berlangsungnya perpindahan massa solute dari fasa padatan ke fasa pelarut. Jika suatu cairan ditambahkan ke dalam ekstrak yang telah dilarutkan dalam cairan lain yang tidak bercampur dengan yang pertama akan terbentuk 2 lapisan. Satu komponen dari campuran akan memilki kelarutan dalam kedua lapisan tersebut (biasanya disebut fase) dan setelah beberapa waktu mencapai kesetimbangan konsentrasi dalam kedua lapisan.
5.    Prinsip Kromatografi Lapis Tipis
Pemisahan komponen kimia yang berdasarkan prinsip partisi dan absorpsi antara fase diam (adsorben) dan fase gerak (eluen), komponen kimia bergerak naik mengikuti cairan pengembang karena daya serap adsorben terhadap komponen-komponen kimia tidak sama maka komponen dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda berdasarkan tingkat kepolarannya dan hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemisahan.
6.    Prinsip Penampakan Noda
a.         Pada UV 254 nm
Lempeng akan berflouresensi sedangkan sampel akan tampak berwarna gelap.Penampakan noda pada lampu UV 254 nm adalah karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan indikator fluoresensi yang terdapat pada lempeng. Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen tersebut ketika elektron yang tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan energi.
b.         Pada UV 366 nm
Noda akan berflouresensi dan lempeng akan berwarna gelap. Penampakan noda pada lampu UV 366 nm adalah karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan gugus kromofor yang terikat oleh auksokrom yang ada pada noda tersebut. Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen tersebut ketika elektron yang tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan energi. Sehingga noda yang tampak pada lampu UV 366 terlihat terang karena silika gel yang digunakan tidak berfluororesensi pada sinar UV 366 nm.
c.         Prinsip penampakan noda pereaksi semprot H2SO4 10%

Berdasarkan kemampuan asam sulfat yang bersifat reduktor dalam merusak gugus kromofor dari zat aktif simplisia sehingga panjang gelombangnya akan bergeser ke arah yang lebih panjang (UV menjadi VIS) sehingga noda menjadi tampak secara kasat mata.

Tidak ada komentar: