Pages

Sabtu, 22 Oktober 2016

Masa Khalifah Utsman Bin Affan

MAKALAH KELOMPOK
SEJARAH PERADABAN ISLAM
“Masa Khalifah Utsman Bin Affan”




Oleh
Farmasi B
Kelompok 8



Dosen
Hamansah, S.Pd.,M.Pd

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN & ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

SAMATA-GOWA
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Kepemimpinan merupakan sesuatu yang harus ada dalam suatu pergerakan/ organisasi, dalam kepemimpinan tersebut terdapat pemimpin yang harus ditaati sebagaimana firman Allah QS. AN-Nisa’: 59
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Islam menganjurkan umatnya agar taat kepada pemimpin, namun yang dimaksud dengan taat di sini adalah taat jika pemimpin itu berlaku adil, tidak sewenang-wenang, memperhatikan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Kriteria untuk menjadi seorang pemimpin itu harus memenuhi empat sifat-sifat kenabian yaitu: shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan) dan fathonah (cerdas).
Keberhasilan Nabi Muhammad dalam memimpin umat Islam sehingga muncul beberapa peradaban dunia yang ia bangun tidak berhenti ketika beliau wafat. Kepemimpinan Islam itu dilanjutkan oleh para penggantinya yaitu Khulafa’ur Rasidin (Abu Bakar, ‘Umar bin Khattab, ‘Utsman bin ‘Affan dan ‘Ali bin Abi Thalib). Di bawah kekuasan merekalah Islam bisa tersebar luas, penyusunan al-Qur’an, perluasan masjid dan lain-lain.
B.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui bagaimana Utsman Bin Affan Sebelum Masuk Islam
2.      Untuk mengetahui bagaimana Utsman Menjadi Khalifah
3.      Untuk mengetahui Kemajuan apa yang Dicapai Khalifah Ustman Bin Affan


C.    Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Utsman Bin Affan Sebelum Masuk Islam?
2.      Bagaimana Utsman Menjadi Khalifah?
3.       Kemajuan  apa yang Dicapai Khalifah Ustman Bin Affan?




BAB II
PEMBAHASAN
A.      Utsman Bin Affan Sebelum Masuk Islam
Utsman dilahirkan di mekkah pada tahun 573 masehi bertepatan dengan tahun ke enam dari kelahiran nabi saw. Ayahandanya ‘Affan ibn Abi Ash keturunan Bani umayyah yang cukup disegani pada saat itu. Dan jika ditelusuri silsilah keturunannya dengan nabi maka akan bertemu dengan kakeknya yang keenam yakni Abdi Manaf Ibnu Qushay. Utsman adalah saudagar sukses yang berlimpah kekayaan harta. Namun, meski demikian beliau dikenal sebagai sosok yang rendah hati, pemalu, dan dermawan sehingga beliau begitu dihormati oleh masyarakat disekelilingnya.
B.       Utsman Menjadi Khalifah
Pembai’atan Utsman sebagai khalifah berdasarkan kesepakatan enam orang sahabat termasuk dirinya yang telah ditunjuk langsung oleh Umar ibn Khattab untuk menjadi penggantinya yang akan melanjutkan kepemimpinan dan perjuangannya dalam menyebarkan Islam ke penjuru dunia. Dari  masa inilah awal pengangkatan seorang khalifah secara demokratis dengan jalan musyawarah yang diwakili oleh keenam orang sahabat sepanjang sejarah manusia.
Setelah menerima amanat kekhalifahan tersebut, beliau menjalankan semua kebijakan yang ada pada masa umar sambil menerapkan kebajikan-kebajikan baru demi perkembangan Islam.
Bagaimana pun juga Utsman telah terpilih sebagai khalifah sedangkan ia percaya pada kejujurannya terhadap agama Allah dan terhadap kemampuan Negara dan umat. Utsman sebagai khalifah mempunyai hak dalam memilih cara untuk menjalankan kekuasaannya, selama ia selalu memperhatikan  dasar-dasar pokok yang ditetapkan Allah dan yang dijalankan oleh Rasul-Nya serta kedua sahabatnya. Demikianlah, ia memulai naungan prinsip-prinsip yang erat menjalankan tugas dan tanggung-jawabnya dengan tekat dan ketepatan.
Pada tahun pertama dari khilafah Utsman, yaitu tahun 24 H, negeri Rayyi berhasil ditaklukan. Sebelumnya negeri ini pernah ditaklukan, namun kemudian dibatalkan. Utsman mengangkat Sa’ad bin Abi Waqqash menjadi gubernur Kufah menggantikan Mughirah bin Syu’bah.
Beliau juga berhasil menyatukan orang dalam bacaan dan tulisan Al-Qur’an yang terpercaya setelah berkembangnya bacaan yang dikhawatirkan dapat membingungkan orang. Beliau juga telah memperluas Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Separuh pertama dari masa pemerintahan, Utsman berlangsung dengan penuh kedamaian, namun setelah itu muncul berbagai permusuhan yang rumit. Perpecahan, perlawanan dan pemberontakan terjadi dimana-mana. Permusuhan yang hebat terjadi pada keluarga sahabat Nabi yang telah terbina ukhuwah Islamiyahnya.
Pada tahun 33 H, Abdullah bin Mas’ud bin Abi Sarh menyerbu Habasyah. Seperti diketahui Utsman banyak mengangkat kerabatnya dari Bani Umayyah untuk menduduki berbagai jabatan. Hal ini menimbulkan ketidaksenangan orang banyak terhadap Utsman. Hal inilah yang dimanfaatkan pihak yahudi, yaitu Abdullah bin Saba’ dan teman-temannya untuk membangkitkan fitnah. Orang-orang menggugat Utsman atas kebijakan-kenijakannya mengangkat para kerabatnya.
Kekhalifahan Utsman dicap oleh sebagian besar kalangan munafik yang diprakarsai oleh Abdullah bin Saba’ dengan mengatakan bahwa khalifah selalu mementingkan keluarganya. Dengan kata lain dipemimpinannya diwarnai oleh nepotisme untuk memperkuat klainnya, Bani Umayyah. Ketidakpuasan tersebut ditunjukan terhadap para gubernur keturunan Umayyah yang banyak melakukan penyimpangan-penyimpangan wewenang kenegaraan untuk menumpuk kekayaan mereka tanpa dapat teguran dari khalifah sendiri, dan juga terhadap kelompok yang melawan kekuasaan mereka yang berasal dari putra Abu Bakar yang menuduh keluarga Umayyah telah merampas kekuasaan ayahnya, yang pada perkembangannya menimbulkan gelombang pemberontakan melawan khalifah.
Utsman mengumpulkan para gubernur dan bermusyawarah. Akhirnya Utsman memerintahkan agar menjinakkan hati para pemberontak dan pembangkang tersebut dengan memberi harta dan mengirim mereka ke medan perperangan lain dan pos-pos perbatasan.
Selain itu, terdapat juga masalah lain, yaitu terjadi perbedaan antar mushaf yang menimbulkan perkara yang kemudian hari menyebabkan timbulnya tujuh macam bacaan yang terkenal. Utsman berkehendak melenyapkan perbedaan dan perselisihan tersebut. Dalam imannya yang mutlak terhadap keharusan dari penyingkirkan itu tidak ada maksud apa-apa kecuali satu tujuan, yaitu menghimpun kaum muslimin seluruhnya diatas satu mushaf.
Ditengah merebaknya adu domba dari para Bani Umayyah yang menyebabkan kekacauan yang hebat dan membuat Utsman merasa terdesak dan tak berdaya, serta pada situasi genting. Ali terus menasihati Utsman sampai saat terakhir hidupnya agar menhilangkan kesedihan rakyat dan memberikan imbalan kepada mereka atas penindasan yang mereka alami, supaya pemerintahannya lepas dari bahaya.
Demikianlah, Utsman memberikan tekadnya yang lurus kepada tanggungjawabnya yang besar, memenuhinya dengan kebenaran, kemampuan dan keberaniannya.
Betapapun kritik yang dilontarkan kepada Utsman atas kebajikannya dalam memilih para gubernur dan pembantunya, kita harus menyadari bahwa kebijakan itu merupakan ijtihad pribadinya. Jadi bukan berdasarkan nafsunya, melainkan berdasarkan ijtihad. Dan para sahabat yang mengkritiknya pun dalam rangka menasihati dengan berdasar pada ijtihad pula, yang mana hal ini adalah positif dan bermanfaat.
C. Kemajuan yang Dicapai Khalifah Ustman Bin Affan
1.      Perluasan Wilayah Islam
Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwasanya Utsman harus bekerja lebih keras lagi dalam mempertahankan dan melanjutkan perjuangan panji Islam sebab berbagai ancaman dan rintangan akan semakin berat untuknya mengingat pada masa sebelumnya telah tersier tanda – tanda adanya negeri yang pernah ditaklukkan oleh islam hendak berbalik memberontak padanya. Namun demikian, meski disana – sini banyak kesulitan beliau sanggup meredakan dan menumpas segala pembangkangan mereka, bahakan pada masa ini islam berhasil tersebar hamper keseluruh belahan dunia mulai dari Anatolia, dan Asia kecil, Afganistan, Samarkand, Tashkent, Turkmenistan, khurasan, dan Thabrani Timur hingga Timur Laut seperti Libya, Aljazair, Tunisia, Maroko dan Ethiopia. Maka islam lebih luas wilayahnya jika dibandingkan dengan imperium sebelumnya yakni Romawi dan Persia karena islam telah menguasai hamper sebagian besar daratan Asia dan Afrika.
Perluasan islam dimasa Ustman dapat disimpulkan pada dua bidang, yaitu :
                                     I.      Menumpas pendurhakaan dan pemberontakan yang terjadi dibeberapa negeri yang telah masuk kebawah kekuasaan Islam di zaman Umar. Setelah Umar berpulang kerahmatullah ada daerah- daerah yang mendurhaka kepada pemerintah Islam. Pendurhakaan itu ditimbulkan oleh pendukung-pendukung pemerintahan yang lama atau dengan kata lain ada sementara pamompraja dari pemerintahan yang lama (pemerintahan sebelum daeah itu masuk ke bawah kekuasaan Islam) ingin mengembalikkan kekuasaannya.
                                  II.      Melanjutkan perluasan Islam ke daerah-daerah yang sampai disana telah terhenti pada perluasan Islam di Umar. Perluasan islam boleh dikatakan meliputi semua daerah yang telah dicapai balatentara Islam dimasa Umar. Perluasan ini dimasa Usman telah bertambah dengan perluasan ke laut. Kaum muslimin pada masa itu pu  telah mempunyai angkatan laut.
 Salah satu pertempuran yang penting dilaut pada masa Usman ialah pertempuran “Dzatis Sawari” (pertempuran tiang kapal). Pertempuran ini terjadi pada tahun 31 H dilaut tengah dekat kota Iskandariyah, antara tentara Romawi dibawah kepemimpinan kaisar dengan bala tentara islam di bawah pimpinan Abdullah ibnu Abi Sarah, yang menjadi gubernur di Mesir. Pertempuran ini dinamakan Dzatis Sawari karena banyaknya kapal-kapal perang yang ikut dalam peperangan ini. Konon kabarnya kapal-kapal tersebut ada 1000, 200 kepunyaan kaum Muslim dan sisanya adalah kepunyaan bagsa Romawi. Dalam pertempuran ini kaum Muslimin telah berhasil mengalahkan tentara Romawi.

2.      Kodifikasi Al-Qur’an
Khalifah Utsman adalah khalifah pertama yang melakukan perluasan terhadap mesjid Nabawi di Madinah dan Masjid Al-Haram di makkah. Dan beliau juga yang pertama kali menentukan adzan awal menjelang shalat jum’at. Selain melakukan perluasan Masjid, khalifah Ustman juga melakukan kodifikasi Al-Qur’an.
Masa penyusunan Al-Qur’an memang telah ada pada masa Khalifah Abu Bakar atas usulan Umar Bin Khattab yang kemudian disimpan ditangan istri Nabi Hafsah binti Umar. Berdasarkan pertimbangan bahwa banyak para penghafal Al-Qur’an yang gugur usai peperangan Yamamah. Kini setelah Ustman memegang tonggak kepemimpinan dan bertambah luas pula wilayah kekuasaan Islam maka banyak ditemukan perbedaan lahjah dan bacaan terhadap Al-Qur’an. Inilah yang mendorong beliau untuk menyusun kembali Al-Qur’an yang ada pada hafsah dan menyeragamkannya kedalam bahasa Quraisy agar tidak terjadi perselisihan antara umat dikemudian hari. Seperti halnya kitab suci umat lain yang selalu berbeda antar sekte yang satu dengan yang lainnya.

Panitia – panitia pengkodifikasian Al-Qur’an yang dibentuk khalifah Ustman bin Affan ini pertama-tama melakukan pengecekan ulang dengan meneliti mushaf yang sudah disimpan dirumah Hafsah dan membaningkannya dengan mushaf-mushaf yang lain. Ketika itu terdapat empat mushaf Al-Qur’an yang merupakan catatan pribadi
1.      Mushaf Al-Qur;an yang ditulis oleh Ali bin Ali Thalib, terdiri atas 111 surah. Surah pertama adalah surah Al-Baqarah dan surah terakhir surah Al-Muawidzatain
2.      Mushaf Al-Qur’an yang ditulis oleh Ubay bin Ka’ab terdiri atas 105 surah. Surah pertama adalah Al-fatihah dan surah terakhir adalah surah An-Nas
3.      Mushaf Al-Qur’an yang ditulis oleh Ibnu mas’ud, terdiri atas 108 surah. Surah pertama adalah surah Al-Baqarah dan yang terkakhir adalah surah Qulhuawallahu Ahad
4.      Mushaf Al-Qur’an yang ditulis oleh Ibnu Abbas, terdiri atas 114 surah. Surah pertama adalah surah Iqra dan yang terkakhir adalah surah An-Nas

Maka diutuslah beberapa orang kepercayaannya untuk menyebarkan Al-Qur’an hasil kodifikasinya ke beberapa daerah penting antara lain Makkah, Syiria, Kuffah, Syam, Bahrah dan Yaman. Kemudian beliau menginstruksikan untuk membakar seluruh mushaf yang lain dan berpatokan pada mushaf yang baru yang diberi nama Mushaf Al-Iman.

3.      Sistem Pemerintahan
System pemerintahan pada masa ustman bin affan dilakukan dengan memberikan otonomi penuh kepada daerah. Hal ini berbeda dengan pada masa khalifah Abu Bakar  dan Umar, wilayah hanya dibedakan menjadi dua yaitu wilayah yang kepemimpinannya memiliki otonomi penuh dan pemimpinannya disebut amir dan wilayah dan wilayah yang tidak memiliki otonomi penuh dan pemimpinannya disebut wali.
Pemeritahan  khalifah Ustman Bin Affan berlangsung selama 12 tahun, dibagi menjadi dua periode, enam tahun pertama merupakan pemerintahan yang bersih dari pengangkatan kerabat sebagai pejabat Negara. Sedangkan periode kedua enam tahun terakhir merupakan periode pemerintahan yang tidak bersih dari pengangkatan kerabat sebagai pejabat Negara.

4.      Kelemahan Ustman Dalam Pemerintahan Islam
Ustman menjabat sebagai khalifah selama dua periode. Pada periode pertama ia popular dan periode kedua ia menyedihkan. Disini keadaan politik berbalik mundur. Timbul gejola poliik, petisi dan intrik merajalela yang kemudian mebuahkan pembunuhan dirinya. Pada saat itu khalifah ustman sedang membaca al-qur’an, sehingga bajunya berlumuran darah.
Kerusuhan yang berlanjut dengan pembunuhan Usman, nampaknya berawal dari system kepemimpinan Khalifah Usman sendiri yang dinilai tidak adil dan tidak bijaksana. Diketahui bahwa selama ustman berkuasa, ia banyak mengangkat kerabatnya , seperti Marwan Bin Hamka yang selanjutnya yang selanjutnya mengangkat pla orang-orang Bani Umayyah lainnya menjadi pejabat-pejabat tinggi dan penguasa Negara.

5.      Akhir Masa Kepemimpinan Ustman Bin Affan
Mempelajari kerusuha-kerusuhan yang telah mengakibatkan terbunuhnya usman, banyak pembahasan – pembahasan yang mencurahkan perhatiannya dan membuat penyelidikan khusus dalam soal itu.

Pada  dua tahun kondisi serta sulit akibat merebaknya fitnah dan kedengkian musuh-musuh islam yang diarahkan padanya sehingga beliau syahid dengan amat tragis pada jum’at sore 18 Dzulhijjah 35 H ditangan pemberontak islam.

Di waktu Nabi berpulang ke rahmatullah tidak ada keinginan dari pihak bani umayyah untuk menjadi khalifah. Karena mereka baru saja menganut agama islam dan dulunya merupakan kenyataan bahwa bani Umayyah memusuhi Islam cukup lama dan Umar memberi kesempatan kepada mereka untuk menyusuli ketertinggalan mereka selama ini.
BAB III
PENUTUP
Dari sejarah peradaban pada masa khalifah Ustman diatas, kita melihat berbagai pengetahuan tentang bagaimana agama islam berkembang pada masa itu. Ada berbagai perkembangan yang ada pada saat itu, diantaranya perkembangan dari segi ekonomi, politik, pendidikan dan lain sebagainya. Khalifah ustman bin affan juga memiliki gaya kepemimpinan yang tersendiri hal itu sesuai dengan karakter dan pendirian beliau.
Pada masa itu juga terjadi berbagai peristiwa yang menjadi sebuah sejarah penting bagi umat setelahnya sebagai pelajaran yang beharga. Dari berbagai peristiwa itu kholifah ustman bin affan menyikapi dengan penuh ikhlas dan perjuangan. Walaupun hingga akhirnya beliau terbunuh karena agama Allah.   



DAFTAR PUSTAKA
Abdul Jabal Umar,2009. Modul Hikamah, Maktabah Al Hikmah. Surabaya
Abdurrahman, 2008. Sejarah Peradaban Islam . Lesfi. Yogyakarta
Zainuddin Muhad, 2009  Studi Kepemimpinan Islam, Toba Putra Semarang
                              https://id.wikipedia.org/wiki/Utsman_bin_Affan
            http://kisahmuslim.com/keutamaan-utsman-bin-affan/

Tidak ada komentar: