MAKALAH
KELOMPOK
SEJARAH
PERADABAN ISLAM
“Masa
Khalifah Utsman Bin Affan”
Oleh
Farmasi
B
Kelompok
8
Dosen
Hamansah,
S.Pd.,M.Pd
JURUSAN
FARMASI
FAKULTAS
KEDOKTERAN & ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
SAMATA-GOWA
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kepemimpinan
merupakan sesuatu yang harus ada dalam suatu pergerakan/ organisasi, dalam
kepemimpinan tersebut terdapat pemimpin yang harus ditaati sebagaimana firman
Allah QS. AN-Nisa’: 59
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا
الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ
إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ
الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Islam menganjurkan umatnya agar taat kepada pemimpin, namun yang dimaksud
dengan taat di sini adalah taat jika pemimpin itu berlaku adil, tidak
sewenang-wenang, memperhatikan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Kriteria
untuk menjadi seorang pemimpin itu harus memenuhi empat sifat-sifat kenabian
yaitu: shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan) dan
fathonah (cerdas).
Keberhasilan Nabi Muhammad dalam memimpin umat Islam sehingga muncul
beberapa peradaban dunia yang ia bangun tidak berhenti ketika beliau wafat.
Kepemimpinan Islam itu dilanjutkan oleh para penggantinya yaitu Khulafa’ur
Rasidin (Abu Bakar, ‘Umar bin Khattab, ‘Utsman bin ‘Affan dan ‘Ali bin Abi
Thalib). Di bawah kekuasan merekalah Islam bisa tersebar luas, penyusunan
al-Qur’an, perluasan masjid dan lain-lain.
B. Tujuan
1. Untuk
mengetahui bagaimana Utsman Bin Affan Sebelum Masuk Islam
2. Untuk
mengetahui bagaimana Utsman Menjadi Khalifah
3.
Untuk mengetahui Kemajuan apa yang Dicapai Khalifah Ustman Bin Affan
C.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
Utsman Bin Affan Sebelum Masuk Islam?
2. Bagaimana
Utsman Menjadi Khalifah?
3.
Kemajuan
apa yang Dicapai Khalifah Ustman Bin Affan?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Utsman
Bin Affan Sebelum Masuk Islam
Utsman
dilahirkan di mekkah pada tahun 573 masehi bertepatan dengan tahun ke enam dari
kelahiran nabi saw. Ayahandanya ‘Affan ibn Abi Ash keturunan Bani umayyah yang
cukup disegani pada saat itu. Dan jika ditelusuri silsilah keturunannya dengan
nabi maka akan bertemu dengan kakeknya yang keenam yakni Abdi Manaf Ibnu
Qushay. Utsman adalah saudagar sukses yang berlimpah kekayaan harta. Namun,
meski demikian beliau dikenal sebagai sosok yang rendah hati, pemalu, dan
dermawan sehingga beliau begitu dihormati oleh masyarakat disekelilingnya.
B.
Utsman
Menjadi Khalifah
Pembai’atan
Utsman sebagai khalifah berdasarkan kesepakatan enam orang sahabat termasuk
dirinya yang telah ditunjuk langsung oleh Umar ibn Khattab untuk menjadi
penggantinya yang akan melanjutkan kepemimpinan dan perjuangannya dalam
menyebarkan Islam ke penjuru dunia. Dari
masa inilah awal pengangkatan seorang khalifah secara demokratis dengan
jalan musyawarah yang diwakili oleh keenam orang sahabat sepanjang sejarah
manusia.
Setelah
menerima amanat kekhalifahan tersebut, beliau menjalankan semua kebijakan yang
ada pada masa umar sambil menerapkan kebajikan-kebajikan baru demi perkembangan
Islam.
Bagaimana
pun juga Utsman telah terpilih sebagai khalifah sedangkan ia percaya pada
kejujurannya terhadap agama Allah dan terhadap kemampuan Negara dan umat.
Utsman sebagai khalifah mempunyai hak dalam memilih cara untuk menjalankan
kekuasaannya, selama ia selalu memperhatikan
dasar-dasar pokok yang ditetapkan Allah dan yang dijalankan oleh
Rasul-Nya serta kedua sahabatnya. Demikianlah, ia memulai naungan
prinsip-prinsip yang erat menjalankan tugas dan tanggung-jawabnya dengan tekat
dan ketepatan.
Pada
tahun pertama dari khilafah Utsman, yaitu tahun 24 H, negeri Rayyi berhasil
ditaklukan. Sebelumnya negeri ini pernah ditaklukan, namun kemudian dibatalkan.
Utsman mengangkat Sa’ad bin Abi Waqqash menjadi gubernur Kufah menggantikan
Mughirah bin Syu’bah.
Beliau
juga berhasil menyatukan orang dalam bacaan dan tulisan Al-Qur’an yang
terpercaya setelah berkembangnya bacaan yang dikhawatirkan dapat membingungkan
orang. Beliau juga telah memperluas Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Separuh
pertama dari masa pemerintahan, Utsman berlangsung dengan penuh kedamaian,
namun setelah itu muncul berbagai permusuhan yang rumit. Perpecahan, perlawanan
dan pemberontakan terjadi dimana-mana. Permusuhan yang hebat terjadi pada
keluarga sahabat Nabi yang telah terbina ukhuwah Islamiyahnya.
Pada
tahun 33 H, Abdullah bin Mas’ud bin Abi Sarh menyerbu Habasyah. Seperti
diketahui Utsman banyak mengangkat kerabatnya dari Bani Umayyah untuk menduduki
berbagai jabatan. Hal ini menimbulkan ketidaksenangan orang banyak terhadap
Utsman. Hal inilah yang dimanfaatkan pihak yahudi, yaitu Abdullah bin Saba’ dan
teman-temannya untuk membangkitkan fitnah. Orang-orang menggugat Utsman atas
kebijakan-kenijakannya mengangkat para kerabatnya.
Kekhalifahan
Utsman dicap oleh sebagian besar kalangan munafik yang diprakarsai oleh
Abdullah bin Saba’ dengan mengatakan bahwa khalifah selalu mementingkan
keluarganya. Dengan kata lain dipemimpinannya diwarnai oleh nepotisme untuk
memperkuat klainnya, Bani Umayyah. Ketidakpuasan tersebut ditunjukan terhadap
para gubernur keturunan Umayyah yang banyak melakukan penyimpangan-penyimpangan
wewenang kenegaraan untuk menumpuk kekayaan mereka tanpa dapat teguran dari
khalifah sendiri, dan juga terhadap kelompok yang melawan kekuasaan mereka yang
berasal dari putra Abu Bakar yang menuduh keluarga Umayyah telah merampas
kekuasaan ayahnya, yang pada perkembangannya menimbulkan gelombang
pemberontakan melawan khalifah.
Utsman
mengumpulkan para gubernur dan bermusyawarah. Akhirnya Utsman memerintahkan
agar menjinakkan hati para pemberontak dan pembangkang tersebut dengan memberi
harta dan mengirim mereka ke medan perperangan lain dan pos-pos perbatasan.
Selain
itu, terdapat juga masalah lain, yaitu terjadi perbedaan antar mushaf yang
menimbulkan perkara yang kemudian hari menyebabkan timbulnya tujuh macam bacaan
yang terkenal. Utsman berkehendak melenyapkan perbedaan dan perselisihan
tersebut. Dalam imannya yang mutlak terhadap keharusan dari penyingkirkan itu
tidak ada maksud apa-apa kecuali satu tujuan, yaitu menghimpun kaum muslimin
seluruhnya diatas satu mushaf.
Ditengah
merebaknya adu domba dari para Bani Umayyah yang menyebabkan kekacauan yang
hebat dan membuat Utsman merasa terdesak dan tak berdaya, serta pada situasi
genting. Ali terus menasihati Utsman sampai saat terakhir hidupnya agar
menhilangkan kesedihan rakyat dan memberikan imbalan kepada mereka atas
penindasan yang mereka alami, supaya pemerintahannya lepas dari bahaya.
Demikianlah,
Utsman memberikan tekadnya yang lurus kepada tanggungjawabnya yang besar,
memenuhinya dengan kebenaran, kemampuan dan keberaniannya.
Betapapun
kritik yang dilontarkan kepada Utsman atas kebajikannya dalam memilih para
gubernur dan pembantunya, kita harus menyadari bahwa kebijakan itu merupakan
ijtihad pribadinya. Jadi bukan berdasarkan nafsunya, melainkan berdasarkan
ijtihad. Dan para sahabat yang mengkritiknya pun dalam rangka menasihati dengan
berdasar pada ijtihad pula, yang mana hal ini adalah positif dan bermanfaat.
C.
Kemajuan yang Dicapai Khalifah Ustman Bin Affan
1.
Perluasan
Wilayah Islam
Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwasanya
Utsman harus bekerja lebih keras lagi dalam mempertahankan dan melanjutkan
perjuangan panji Islam sebab berbagai ancaman dan rintangan akan semakin berat
untuknya mengingat pada masa sebelumnya telah tersier tanda – tanda adanya
negeri yang pernah ditaklukkan oleh islam hendak berbalik memberontak padanya.
Namun demikian, meski disana – sini banyak kesulitan beliau sanggup meredakan
dan menumpas segala pembangkangan mereka, bahakan pada masa ini islam berhasil
tersebar hamper keseluruh belahan dunia mulai dari Anatolia, dan Asia kecil,
Afganistan, Samarkand, Tashkent, Turkmenistan, khurasan, dan Thabrani Timur
hingga Timur Laut seperti Libya, Aljazair, Tunisia, Maroko dan Ethiopia. Maka
islam lebih luas wilayahnya jika dibandingkan dengan imperium sebelumnya yakni
Romawi dan Persia karena islam telah menguasai hamper sebagian besar daratan
Asia dan Afrika.
Perluasan islam dimasa Ustman dapat disimpulkan pada
dua bidang, yaitu :
I.
Menumpas
pendurhakaan dan pemberontakan yang terjadi dibeberapa negeri yang telah masuk
kebawah kekuasaan Islam di zaman Umar. Setelah Umar berpulang kerahmatullah ada
daerah- daerah yang mendurhaka kepada pemerintah Islam. Pendurhakaan itu
ditimbulkan oleh pendukung-pendukung pemerintahan yang lama atau dengan kata
lain ada sementara pamompraja dari pemerintahan yang lama (pemerintahan sebelum
daeah itu masuk ke bawah kekuasaan Islam) ingin mengembalikkan kekuasaannya.
II.
Melanjutkan
perluasan Islam ke daerah-daerah yang sampai disana telah terhenti pada
perluasan Islam di Umar. Perluasan islam boleh dikatakan meliputi semua daerah
yang telah dicapai balatentara Islam dimasa Umar. Perluasan ini dimasa Usman
telah bertambah dengan perluasan ke laut. Kaum muslimin pada masa itu pu telah mempunyai angkatan laut.
Salah satu
pertempuran yang penting dilaut pada masa Usman ialah pertempuran “Dzatis
Sawari” (pertempuran tiang kapal). Pertempuran ini terjadi pada tahun 31 H
dilaut tengah dekat kota Iskandariyah, antara tentara Romawi dibawah
kepemimpinan kaisar dengan bala tentara islam di bawah pimpinan Abdullah ibnu
Abi Sarah, yang menjadi gubernur di Mesir. Pertempuran ini dinamakan Dzatis
Sawari karena banyaknya kapal-kapal perang yang ikut dalam peperangan ini.
Konon kabarnya kapal-kapal tersebut ada 1000, 200 kepunyaan kaum Muslim dan
sisanya adalah kepunyaan bagsa Romawi. Dalam pertempuran ini kaum Muslimin
telah berhasil mengalahkan tentara Romawi.
2.
Kodifikasi
Al-Qur’an
Khalifah Utsman adalah khalifah pertama yang melakukan
perluasan terhadap mesjid Nabawi di Madinah dan Masjid Al-Haram di makkah. Dan
beliau juga yang pertama kali menentukan adzan awal menjelang shalat jum’at.
Selain melakukan perluasan Masjid, khalifah Ustman juga melakukan kodifikasi
Al-Qur’an.
Masa penyusunan Al-Qur’an memang telah ada pada masa
Khalifah Abu Bakar atas usulan Umar Bin Khattab yang kemudian disimpan ditangan
istri Nabi Hafsah binti Umar. Berdasarkan pertimbangan bahwa banyak para
penghafal Al-Qur’an yang gugur usai peperangan Yamamah. Kini setelah Ustman
memegang tonggak kepemimpinan dan bertambah luas pula wilayah kekuasaan Islam
maka banyak ditemukan perbedaan lahjah dan bacaan terhadap Al-Qur’an. Inilah
yang mendorong beliau untuk menyusun kembali Al-Qur’an yang ada pada hafsah dan
menyeragamkannya kedalam bahasa Quraisy agar tidak terjadi perselisihan antara
umat dikemudian hari. Seperti halnya kitab suci umat lain yang selalu berbeda
antar sekte yang satu dengan yang lainnya.
Panitia – panitia pengkodifikasian Al-Qur’an yang
dibentuk khalifah Ustman bin Affan ini pertama-tama melakukan pengecekan ulang
dengan meneliti mushaf yang sudah disimpan dirumah Hafsah dan membaningkannya
dengan mushaf-mushaf yang lain. Ketika itu terdapat empat mushaf Al-Qur’an yang
merupakan catatan pribadi
1.
Mushaf
Al-Qur;an yang ditulis oleh Ali bin Ali Thalib, terdiri atas 111 surah. Surah
pertama adalah surah Al-Baqarah dan surah terakhir surah Al-Muawidzatain
2.
Mushaf
Al-Qur’an yang ditulis oleh Ubay bin Ka’ab terdiri atas 105 surah. Surah
pertama adalah Al-fatihah dan surah terakhir adalah surah An-Nas
3.
Mushaf
Al-Qur’an yang ditulis oleh Ibnu mas’ud, terdiri atas 108 surah. Surah pertama
adalah surah Al-Baqarah dan yang terkakhir adalah surah Qulhuawallahu Ahad
4.
Mushaf
Al-Qur’an yang ditulis oleh Ibnu Abbas, terdiri atas 114 surah. Surah pertama
adalah surah Iqra dan yang terkakhir adalah surah An-Nas
Maka diutuslah beberapa orang kepercayaannya untuk
menyebarkan Al-Qur’an hasil kodifikasinya ke beberapa daerah penting antara
lain Makkah, Syiria, Kuffah, Syam, Bahrah dan Yaman. Kemudian beliau
menginstruksikan untuk membakar seluruh mushaf yang lain dan berpatokan pada
mushaf yang baru yang diberi nama Mushaf Al-Iman.
3.
Sistem
Pemerintahan
System pemerintahan pada masa ustman bin affan
dilakukan dengan memberikan otonomi penuh kepada daerah. Hal ini berbeda dengan
pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar,
wilayah hanya dibedakan menjadi dua yaitu wilayah yang kepemimpinannya memiliki
otonomi penuh dan pemimpinannya disebut amir
dan wilayah dan wilayah yang tidak memiliki otonomi penuh dan pemimpinannya
disebut wali.
Pemeritahan
khalifah Ustman Bin Affan berlangsung selama 12 tahun, dibagi menjadi
dua periode, enam tahun pertama merupakan pemerintahan yang bersih dari
pengangkatan kerabat sebagai pejabat Negara. Sedangkan periode kedua enam tahun
terakhir merupakan periode pemerintahan yang tidak bersih dari pengangkatan
kerabat sebagai pejabat Negara.
4.
Kelemahan
Ustman Dalam Pemerintahan Islam
Ustman menjabat sebagai khalifah selama dua periode.
Pada periode pertama ia popular dan periode kedua ia menyedihkan. Disini
keadaan politik berbalik mundur. Timbul gejola poliik, petisi dan intrik
merajalela yang kemudian mebuahkan pembunuhan dirinya. Pada saat itu khalifah
ustman sedang membaca al-qur’an, sehingga bajunya berlumuran darah.
Kerusuhan yang berlanjut dengan pembunuhan Usman,
nampaknya berawal dari system kepemimpinan Khalifah Usman sendiri yang dinilai
tidak adil dan tidak bijaksana. Diketahui bahwa selama ustman berkuasa, ia
banyak mengangkat kerabatnya , seperti Marwan Bin Hamka yang selanjutnya yang
selanjutnya mengangkat pla orang-orang Bani Umayyah lainnya menjadi
pejabat-pejabat tinggi dan penguasa Negara.
5.
Akhir
Masa Kepemimpinan Ustman Bin Affan
Mempelajari kerusuha-kerusuhan yang telah
mengakibatkan terbunuhnya usman, banyak pembahasan – pembahasan yang mencurahkan
perhatiannya dan membuat penyelidikan khusus dalam soal itu.
Pada dua tahun
kondisi serta sulit akibat merebaknya fitnah dan kedengkian musuh-musuh islam
yang diarahkan padanya sehingga beliau syahid dengan amat tragis pada jum’at
sore 18 Dzulhijjah 35 H ditangan pemberontak islam.
Di waktu Nabi berpulang ke rahmatullah tidak ada
keinginan dari pihak bani umayyah untuk menjadi khalifah. Karena mereka baru
saja menganut agama islam dan dulunya merupakan kenyataan bahwa bani Umayyah
memusuhi Islam cukup lama dan Umar memberi kesempatan kepada mereka untuk
menyusuli ketertinggalan mereka selama ini.
BAB III
PENUTUP
Dari sejarah peradaban pada
masa khalifah Ustman diatas, kita melihat berbagai pengetahuan tentang
bagaimana agama islam berkembang pada masa itu. Ada berbagai perkembangan yang
ada pada saat itu, diantaranya perkembangan dari segi ekonomi, politik,
pendidikan dan lain sebagainya. Khalifah ustman bin affan juga memiliki gaya
kepemimpinan yang tersendiri hal itu sesuai dengan karakter dan pendirian
beliau.
Pada masa itu juga terjadi
berbagai peristiwa yang menjadi sebuah sejarah penting bagi umat setelahnya
sebagai pelajaran yang beharga. Dari berbagai peristiwa itu kholifah ustman bin
affan menyikapi dengan penuh ikhlas dan perjuangan. Walaupun hingga akhirnya
beliau terbunuh karena agama Allah.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Jabal
Umar,2009. Modul Hikamah, Maktabah Al Hikmah. Surabaya
Abdurrahman,
2008. Sejarah Peradaban Islam . Lesfi. Yogyakarta
Zainuddin Muhad, 2009 Studi Kepemimpinan Islam, Toba Putra
Semarang
http://kisahmuslim.com/keutamaan-utsman-bin-affan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar