BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pada
zaman ini telah terjadi berbagai fenomena-fenomena di belahan dunia, mulai dari
negara-negara berkembang hingga negara-negara maju ataupun jenis negara-negara
lainnya. Salah satunya fenomena yang terjadi adalah di bidang kesehatan, mulai
dari penemuan teknologi, obat, hingga penyakit-penyakit yang ada dan telah
menyebar di berbagai negara-negara di dunia ini.
Di
dunia kesehatan juga meliputi berbagai ilmu pengetahuan mulai dari ilmu di
bidang kedokteran, farmasi, kebidanan, dsb. Adapun ilmu pengetahuan yang
dimaksud salah satunya adalah mikrobiologi. Mikrobiologi terdiri dari tiga kata
dasar, yaitu mikro (kecil), bios (hidup), logos (pengetahuan). Mikrobiologi
meliputi tentang kehidupan organisme yang berukuran kecil, misalnya virus,
bakteri, dsb.
Bidang
kesehatan di era kini telah terjadi banyak kasus yang berhubungan dengan
mikrobiologi, yaitu adanya berbagai penyakit yang memberi dampak yang besar
pada manusia. Mulai dari dampak positif hingga negatif bahkan menyebabkan
kematian.
Adapun
beberapa penyakit yang marak di kalangan manusia, yaitu Ebola, AIDS, Diabetes
melitus, TBC, Flu Burung, dsb. Namun, kami akan membahas tentang penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis).
B. Rumusan
Masalah
1. Pengertian
penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis)?
2. Penyebab
penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis)?
3. Penularan
penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis)?
4. Gejala
penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis)?
5. Pengobatan
penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis)?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian penyakit TBC (Mycobacterium
tuberculosis).
2. Untuk
mengetahui penyebab penyakit TBC (Mycobacterium
tuberculosis).
3. Untuk
mengetahui cara penularan penyakit TBC (Mycobacterium
tuberculosis).
4. Untuk
mengetahui gejala penyakit TBC (Mycobacterium
tuberculosis).
5. Untuk
mengetahui pengobatan penyakit TBC (Mycobacterium
tuberculosis).
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Penyakit TBC
Tuberkulosis
(Tuberculosis, disingkat Tbc), atau Tb (singkatan
dari "Tubercle bacillus")
merupakan penyakit menular yang umum, dan dalam
banyak kasus bersifat mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai strain mikobakteria,
umumnya Mycobacterium tuberculosis
(disingkat "MTb" atau "MTbc"). Tuberkulosis biasanya
menyerang paru-paru, namun juga bisa berdampak pada bagian
tubuh lainnya. Tuberkulosis menyebar melalui udara ketika seseorang dengan
infeksi TB aktif batuk, bersin, atau menyebarkan butiran ludah melalui udara.
Infeksi TB umumnya bersifat asimtomatik dan
laten. Namun hanya satu dari sepuluh kasus infeksi laten yang berkembang
menjadi penyakit aktif. Bila Tuberkulosis tidak diobati maka lebih dari 50%
orang yang terinfeksi bisa meninggal.
Kuman TBC berbentuk
batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam. Oleh Karena itu
disebut juga sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TBC cepat mati dengan sinar
matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang
gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant atau tertidur lama selama beberapa tahun.
Meskipun prevalensinya
menurun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, jumlah penderita
penyakit tuberkulosis (TB) di Indonesia masih terbilang tinggi. Bahkan, saat
ini jumlah penderita TB di Indonesia menempati peringkat empat terbanyak di
seluruh dunia.
"Indonesia
peringkat empat terbanyak untuk penderita TB setelah China, India, dan Afrika
Selatan. Tapi, itu karena sesuai dengan jumlah penduduknya yang juga
banyak," kata Direktur Jenderal Pengawasan Penyakit dan Pengelolaan
Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI Tjandra Yoga Aditama di sela-sela
acara Forum Stop TB Partnership Kawasan Asia Tenggara, Pasifik Barat, dan
Mediterania Timur, Senin (3/3/2014), di Jakarta.
Klasifikasi
Mycobacterium tuberculosis
( Kingdom: Bacteria )
( Phylum:
Actinobacteria )
( Order:
Actinomycetales )
( Suborder:
Corynebacterineae )
( Family:
Mycobacteriaceae )
( Genus:
Mycobacterium )
( Species: Mycobacterium tuberculosis )
Binomial name Mycobacterium tuberculosis
Spesies ini adalah patogen manusia yang intrasel
fakultatif dan menyebabkan tubercolosis. Penyakit ini sebagian besar tinggal di
lingkungan urban padat sehingga menjadi masalah utama diantara kaum miskin karena
meningkatnya kemungkinan penyebaran melalui pernapasan dan adanya pasien-pasien
yang tidak diobati.
Mycobacterium tuberculosis tidak
dapat diklasifikasikan sebagai bakteri gram positif atau bakteri gram negatif,
karena apabila diwarnai sekali dengan zat warna basa, warna tersebut tidak
dapat dihilangkan dengan alkohol, meskipun dibubuhi iodium. Oleh sebab itu
bakteri ini termasuk dalam bakteri tahan asam. Mycobacterium
tuberculosis cenderung lebih resisten terhadap faktor kimia dari pada
bakteri yang lain karena sifat hidrofobik permukaan selnya dan pertumbuhan
bergerombol. Mycobacterium tuberculosis tidak menghasilkan
kapsul atau spora serta dinding selnya terdiri dari peptidoglikan dan DAP,
dengan kandungan lipid kira-kira setinggi 60% (Simbahgaul, 2008). Pada dinding
sel mycobacteria, lemak berhubungan dengan arabinogalaktan dan peptidoglikan di
bawahnya. Struktur ini menurunkan permeabilitas dinding sel, sehingga
mengurangi efektivitas dari antibiotik. Lipoarabinomannan, suatu molekul lain
dalam dinding sel mycobacteria, berperan dalam interaksi antara inang dan
patogen, menjadikan Mycobacterium tuberculosis dapat bertahan
hidup di dalam makrofag.
Morfologi
Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman batang lurus
atau agak bengkok, berukuran panjang 1 sampai 4 µ dan lebar 0,2 sampai 0,8 µ,
dapat ditemukan bentuk sendiri maupun berkelompok. Kuman ini merupakan bakteri
tahan asam (BTA) yang bersifat tidak bergerak, tidak berspora, dan tidak
bersimpai. Pada pewarnaannya M. tuberculosis tampak seperti
manik-manik atau tidak terwarnai secara merata.
B.
Penyebab Penyakit TBC
Penyebab utama penyakit
TB adalah Mycobacterium tuberculosis,
yaitu sejenis basil
aerobik kecil yang non-motil.
Berbagai karakter klinis unik patogen ini disebabkan oleh tingginya kandungan lemak/lipid
yang dimilikinya. Sel-selnya membelah
setiap 16 –20 jam. Kecepatan pembelahan ini termasuk lambat bila dibandingkan
dengan jenis bakteri lain yang umumnya membelah setiap kurang dari satu jam.
Mikobakteria memiliki lapisan ganda membran luar lipid. Bila dilakukan
uji pewarnaan Gram, maka MTB akan
menunjukkan pewarnaan "Gram-positif" yang lemah atau tidak
menunjukkan warna sama sekali karena kandungan lemak
dan asam mikolat
yang tinggi pada dinding selnya. MTB bisa tahan terhadap berbagai disinfektan
lemah dan dapat bertahan hidup dalam kondisi kering
selama berminggu-minggu. Di alam, bakteri hanya dapat berkembang dalam sel inang
organisme tertentu, namun M. tuberculosis bisa dikultur di laboratorium.
C.
Penularan Penyakit TBC
Penyakit TBC biasanya
menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mycobakterium tuberculosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC
batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC
dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan
berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh
yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah
bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ
tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar
getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering
terkena yaitu paru-paru.
Saat Mikobakterium
tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh
koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui
serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat
melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru.
Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi
jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat).
Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel
pada pemeriksaan foto rontgen.
Pada sebagian orang
dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya.
Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri
ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak.
Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang
inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang
yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami
pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC.
Meningkatnya penularan
infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan dengan beberapa
keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya
fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang
tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping
itu daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan
faktor yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.
![]() |
D.
Gejala Penyakit TBC
Gejala penyakit TBC dapat dibagi
menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang
terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru,
sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.
Gejala sistemik/umum
·
Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama,
biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan
demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
·
Penurunan nafsu makan dan berat badan.
·
Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai
dengan darah).
·
Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
Gejala khusus
·
Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila
terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat
penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara
"mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
·
Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus
paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
·
Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti
infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada
kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
·
Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus
otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya
adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
Pada pasien anak yang tidak
menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan
pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita TBC paru
dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan
� 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA
positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.
E.
Pengobatan Penyakit TBC
1. Isoniazid
Isoniazid
bersifat bakterisid terhadap basil yang sedang tumbuh pesat, aktif terhadap
kuman yang berada intraseluler dalam makrofag
maupun diluar sel (ekstraseluler).
a. Mekanisme
kerja
Dengan menghambat
biosintesis asam mikolat (micolic acid) yang
merupakan unsur penting dingding sel mikrobakterium.
b. Efek samping
Mengakibatkan
gatal-gatal dan ikterus juga polyneuritis, yakni radang saraf dengan gejala
kejang dan gangguan penglihatan, perasaan tidak sehat, letih dan lemah serta anoreksia.
c. Farmakokinetik
Dari usus
sangat cepat difusinya ke dalam jaringan dan cairan tubuh, di dalam hati, INH
diasetilasi oleh enzim asetiltransferase
menjadi metabolit inaktif. PP-nya ringan sekali, plasma-t ½ nya antara 1 dan 4
jam tergantung pada kecepatan asetilasi. Eksresinya terutama melalui ginjal dan
sebagian besar sebagai asetilisoniazid.
2. Rifampisin
Antibiotikum ini adalah derivat semi sintetis dari rifampisin B (1965) yang
dihasilkan oleh Streptomyces
mediterranei. Rifampisin berkhasiat bakterisid luas, baik yang berada
diluar maupun di dalam sel (ekstra-intraseluler).
a. Mekanisme
kerja
Berdasarkan
perintangan spesifik dari suatu enzim bakteri RNA-polymerase, sehingga sintesa RNA terganggu.
b. Efek samping
Penyakit
kuning (icterus), terutama bila dikombinasikan dengan INH yang juga agak toksis
bagi hati. Rifampisin juga dapat menyebabkan gangguan saluran cerna seperti
mual, muntah, sakit ulu hati, kejang perut dan diare, begitu pula gejala
gangguan SSP dan reaksi hipersensitasi.
c. Farmakokinetik
Reabsorpsinya
di usus sangat tinggi, distribusi ke jaringan dan cairan tubuh juga baik.
Plasma-t½ nya berkisar antara 1,5 sampai 5 jam. Ekskresinya khusus melalui
empedu, sedangkan melalui ginjal berlangsung secara fakultatif.
3. Etambutol
Etambutol bersifat bakteriostatik. Obat ini
tetap menekan pertumbuhan kuman
tuberculosis yang telah resisten terhadap isoniazid dan streptomisin.
a. Mekanisme
kerja
Etambutol bekerjanya
menghambat sintesis metabolit sel sehingga metabolisme sel terhambat dan sel
mati.
b. Efek samping
Etambutol jarang menimbulkan efek samping.
Dosis harian sebesar 15 mg/kg BB menimbulkan efek toksis yang minimal. Pada
dosis ini kurang 2% pasien akan
mengalami efek samping yaitu penurunan ketajaman penglihatan, ruam kulit dan
demam.
c. Farmakokinetik
Pada
pemberian oral sekitar 75-80% etambutol di serap dari saluran cerna. Kadar
puncak dari plasma di capai
dalam waktu 2-4 jam setelah pemberian. Dosis tunggal 15 mg/kg BB menghasilkan
kadar plasma sekitar 5 ml pada 2-4 jam.
4. Pirazinamid
Analogon pirazin dari nikotinamida ini
(1952) bekerja bakterisid pada suasana asam atau bakteriostatik, tergantung
pada pH dan kadarnya di dalam darah. Spektrum kerjanya sangat sempit dan hanya
meliputi M.tuberculosis.
a. Mekanisme
kerja
Berdasarkan
pengubahannya menjadi asam pirazinat oleh
enzim pyrazinamidase yang berasal
dari basil TBC. Begitu pH dalam makrofag di turunkan, maka kuman yang berada di
“sarang” infeksi yang menjadi asam akan mati .
b. Efek samping
Kerusakan
hati dengan ikterus (hepatotoksis)
terutama pada dosis diatas 2 g sehari. Dapat pula menimbulkan serangan encok
(gout) juga gangguan pada lambung-usus, fotosensibilisasi, artralgia, demam,
malaise dan anemia, juga menurunkan kadar gula darah.
c. Famakokinetik
Reabsorpsinya
cepat & sempurna, kadar maksimal dalam plasma dicapai dalam waktu 1-2 jam .
Distribusinya ke jaringan dan cairan serebrospinal baik. Kurang lebih 70%
pirazinamida diekskresikan lewat urin.
5. Streptomisin
Suatu aminoglikosida
, diperoleh dari Streptomyces griseus
(1944), senyawa ini bersifat bakterisid terhadap banyak kuman Gram negatif
dan Gram positif.
a. Mekanisme
kerja
Berdasarkan
penghambatan sintesa protein kuman dengan jalan pengikatan pada RNA ribosomal.
Antibiotik ini toksis untuk organ pendengaran dan keseimbangan.
b. Efek samping
Gangguan
penglihatan berupa Neuritis optica
(radang saraf mata) dan bersifat reversible
bila pengobatan dihentikan. Sebaiknya jangan diberikan pada anak kecil,
karena kemungkinan gangguan penglihatan (visus)
sulit di deteksi.
c. Farmakokinetik
Reabsorpsinya baik (75-80%) , plasma-t½ nya
3-4 jam .Ekskresinya lewat ginjal (80%).
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tuberkulosis
(Tuberculosis, disingkat Tbc), atau Tb (singkatan
dari "Tubercle bacillus")
merupakan penyakit menular yang umum, dan dalam
banyak kasus bersifat mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai strain mikobakteria,
umumnya Mycobacterium tuberculosis
(disingkat "MTb" atau "MTbc"). Tuberkulosis biasanya
menyerang paru-paru, namun juga bisa berdampak pada bagian
tubuh lainnya. Tuberkulosis menyebar melalui udara ketika seseorang dengan
infeksi TB aktif batuk, bersin, atau menyebarkan butiran ludah melalui udara.
Infeksi TB umumnya bersifat asimtomatik dan
laten.
Penyebab utama penyakit
TB adalah Mycobacterium tuberculosis,
yaitu sejenis basil
aerobik kecil yang non-motil.
Berbagai karakter klinis unik patogen ini disebabkan oleh tingginya kandungan lemak/lipid
yang dimilikinya.
Gejala penyakit TBC
terbagi atas gejala umum dan gejala khusus. Adapun obat yang digunakan adalah
isoniazid, rifampisin, etambutol, pirazinamid, dan streptomisin.
B. Saran
Kami
kami menyadari makalah ini tidak luput dari kesalahan, maka kami mengharapkan
kritik dan saran untuk perbaikan pada pembuatan makalah selanjutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Depkes RI, 2006, Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta.
Depkes RI, 2004, Survei Prevalensi
Tuberkulosis di Indonesia, Jakarta; ISBN979-8270-46-0.
Sjamsuhidajat, R., Jong, W.
2005, Buku-Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC
PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indoneia). 2006. Tuberkulosis. Jakarta : IDI Pres Jakarta, 2005

Tidak ada komentar:
Posting Komentar