Pages

Sabtu, 27 September 2014

Makalah TBC

BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Pada zaman ini telah terjadi berbagai fenomena-fenomena di belahan dunia, mulai dari negara-negara berkembang hingga negara-negara maju ataupun jenis negara-negara lainnya. Salah satunya fenomena yang terjadi adalah di bidang kesehatan, mulai dari penemuan teknologi, obat, hingga penyakit-penyakit yang ada dan telah menyebar di berbagai negara-negara di dunia ini.
Di dunia kesehatan juga meliputi berbagai ilmu pengetahuan mulai dari ilmu di bidang kedokteran, farmasi, kebidanan, dsb. Adapun ilmu pengetahuan yang dimaksud salah satunya adalah mikrobiologi. Mikrobiologi terdiri dari tiga kata dasar, yaitu mikro (kecil), bios (hidup), logos (pengetahuan). Mikrobiologi meliputi tentang kehidupan organisme yang berukuran kecil, misalnya virus, bakteri, dsb.
Bidang kesehatan di era kini telah terjadi banyak kasus yang berhubungan dengan mikrobiologi, yaitu adanya berbagai penyakit yang memberi dampak yang besar pada manusia. Mulai dari dampak positif hingga negatif bahkan menyebabkan kematian.

Adapun beberapa penyakit yang marak di kalangan manusia, yaitu Ebola, AIDS, Diabetes melitus, TBC, Flu Burung, dsb. Namun, kami akan membahas tentang penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis).

B.       Rumusan Masalah
1.      Pengertian penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis)?
2.      Penyebab penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis)?
3.      Penularan penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis)?
4.      Gejala penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis)?
5.      Pengobatan penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis)?


C.       Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis).
2.      Untuk mengetahui penyebab penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis).
3.      Untuk mengetahui cara penularan penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis).
4.      Untuk mengetahui gejala penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis).
5.      Untuk mengetahui pengobatan penyakit TBC (Mycobacterium tuberculosis).






















BAB II
PEMBAHASAN

A.       Pengertian Penyakit TBC
Tuberkulosis (Tuberculosis, disingkat Tbc), atau Tb (singkatan dari "Tubercle bacillus") merupakan penyakit menular yang umum, dan dalam banyak kasus bersifat mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai strain mikobakteria, umumnya Mycobacterium tuberculosis (disingkat "MTb" atau "MTbc"). Tuberkulosis biasanya menyerang paru-paru, namun juga bisa berdampak pada bagian tubuh lainnya. Tuberkulosis menyebar melalui udara ketika seseorang dengan infeksi TB aktif batuk, bersin, atau menyebarkan butiran ludah melalui udara. Infeksi TB umumnya bersifat asimtomatik dan laten. Namun hanya satu dari sepuluh kasus infeksi laten yang berkembang menjadi penyakit aktif. Bila Tuberkulosis tidak diobati maka lebih dari 50% orang yang terinfeksi bisa meninggal.
Kuman TBC berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam. Oleh Karena itu disebut juga sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant atau tertidur lama selama beberapa tahun.
Meskipun prevalensinya menurun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, jumlah penderita penyakit tuberkulosis (TB) di Indonesia masih terbilang tinggi. Bahkan, saat ini jumlah penderita TB di Indonesia menempati peringkat empat terbanyak di seluruh dunia.
"Indonesia peringkat empat terbanyak untuk penderita TB setelah China, India, dan Afrika Selatan. Tapi, itu karena sesuai dengan jumlah penduduknya yang juga banyak," kata Direktur Jenderal Pengawasan Penyakit dan Pengelolaan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI Tjandra Yoga Aditama di sela-sela acara Forum Stop TB Partnership Kawasan Asia Tenggara, Pasifik Barat, dan Mediterania Timur, Senin (3/3/2014), di Jakarta.

Klasifikasi Mycobacterium tuberculosis
( Kingdom: Bacteria )
( Phylum: Actinobacteria )
( Order: Actinomycetales )
( Suborder: Corynebacterineae )
( Family: Mycobacteriaceae )
( Genus: Mycobacterium )
( Species: Mycobacterium tuberculosis )
Binomial name Mycobacterium tuberculosis
Spesies ini adalah patogen manusia yang intrasel fakultatif dan menyebabkan tubercolosis. Penyakit ini sebagian besar tinggal di lingkungan urban padat sehingga menjadi masalah utama diantara kaum miskin karena meningkatnya kemungkinan penyebaran melalui pernapasan dan adanya pasien-pasien yang tidak diobati.
Mycobacterium tuberculosis tidak dapat diklasifikasikan sebagai bakteri gram positif atau bakteri gram negatif, karena apabila diwarnai sekali dengan zat warna basa, warna tersebut tidak dapat dihilangkan dengan alkohol, meskipun dibubuhi iodium. Oleh sebab itu bakteri ini termasuk dalam bakteri tahan asam. Mycobacterium tuberculosis cenderung lebih resisten terhadap faktor kimia dari pada bakteri yang lain karena sifat hidrofobik permukaan selnya dan pertumbuhan bergerombol. Mycobacterium tuberculosis tidak menghasilkan kapsul atau spora serta dinding selnya terdiri dari peptidoglikan dan DAP, dengan kandungan lipid kira-kira setinggi 60% (Simbahgaul, 2008). Pada dinding sel mycobacteria, lemak berhubungan dengan arabinogalaktan dan peptidoglikan di bawahnya. Struktur ini menurunkan permeabilitas dinding sel, sehingga mengurangi efektivitas dari antibiotik. Lipoarabinomannan, suatu molekul lain dalam dinding sel mycobacteria, berperan dalam interaksi antara inang dan patogen, menjadikan Mycobacterium tuberculosis dapat bertahan hidup di dalam makrofag.


Morfologi
Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman batang lurus atau agak bengkok, berukuran panjang 1 sampai 4 µ dan lebar 0,2 sampai 0,8 µ, dapat ditemukan bentuk sendiri maupun berkelompok. Kuman ini merupakan bakteri tahan asam (BTA) yang bersifat tidak bergerak, tidak berspora, dan tidak bersimpai. Pada pewarnaannya M. tuberculosis tampak seperti manik-manik atau tidak terwarnai secara merata.

B.       Penyebab Penyakit TBC
Penyebab utama penyakit TB adalah Mycobacterium tuberculosis, yaitu sejenis basil aerobik kecil yang non-motil. Berbagai karakter klinis unik patogen ini disebabkan oleh tingginya kandungan lemak/lipid yang dimilikinya. Sel-selnya membelah setiap 16 –20 jam. Kecepatan pembelahan ini termasuk lambat bila dibandingkan dengan jenis bakteri lain yang umumnya membelah setiap kurang dari satu jam. Mikobakteria memiliki lapisan ganda membran luar lipid. Bila dilakukan uji pewarnaan Gram, maka MTB akan menunjukkan pewarnaan "Gram-positif" yang lemah atau tidak menunjukkan warna sama sekali karena kandungan lemak dan asam mikolat yang tinggi pada dinding selnya. MTB bisa tahan terhadap berbagai disinfektan lemah dan dapat bertahan hidup dalam kondisi kering selama berminggu-minggu. Di alam, bakteri hanya dapat berkembang dalam sel inang organisme tertentu, namun M. tuberculosis bisa dikultur di laboratorium.

C.       Penularan Penyakit TBC
Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mycobakterium tuberculosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.
Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.
Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC.
Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.



 














D.      Gejala Penyakit TBC
Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.
Gejala sistemik/umum
·       Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
·       Penurunan nafsu makan dan berat badan.
·       Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
·       Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
Gejala khusus
·       Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
·       Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
·       Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
·       Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan � 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.

E.       Pengobatan Penyakit TBC
1. Isoniazid
Isoniazid bersifat bakterisid terhadap basil yang sedang tumbuh pesat, aktif terhadap kuman yang berada intraseluler dalam makrofag maupun diluar sel (ekstraseluler).
a. Mekanisme kerja
 Dengan menghambat biosintesis asam mikolat (micolic acid) yang merupakan unsur penting dingding sel mikrobakterium.
b. Efek samping
    Mengakibatkan gatal-gatal dan ikterus juga polyneuritis, yakni radang saraf dengan gejala kejang dan gangguan penglihatan, perasaan tidak sehat, letih dan lemah serta anoreksia.
c. Farmakokinetik
    Dari usus sangat cepat difusinya ke dalam jaringan dan cairan tubuh, di dalam hati, INH diasetilasi oleh enzim asetiltransferase menjadi metabolit inaktif. PP-nya ringan sekali, plasma-t ½ nya antara 1 dan 4 jam tergantung pada kecepatan asetilasi. Eksresinya terutama melalui ginjal dan sebagian besar sebagai asetilisoniazid.
2. Rifampisin
    Antibiotikum ini adalah derivat  semi sintetis dari rifampisin B (1965) yang dihasilkan oleh Streptomyces mediterranei. Rifampisin berkhasiat bakterisid luas, baik yang berada diluar maupun di dalam sel (ekstra-intraseluler).
a. Mekanisme kerja
    Berdasarkan perintangan spesifik dari suatu enzim bakteri RNA-polymerase, sehingga sintesa RNA terganggu.
b. Efek samping
    Penyakit kuning (icterus), terutama bila dikombinasikan dengan INH yang juga agak toksis bagi hati. Rifampisin juga dapat menyebabkan gangguan saluran cerna seperti mual, muntah, sakit ulu hati, kejang perut dan diare, begitu pula gejala gangguan SSP dan reaksi hipersensitasi.
c. Farmakokinetik
    Reabsorpsinya di usus sangat tinggi, distribusi ke jaringan dan cairan tubuh juga baik. Plasma-t½ nya berkisar antara 1,5 sampai 5 jam. Ekskresinya khusus melalui empedu, sedangkan melalui ginjal berlangsung secara fakultatif.
3. Etambutol    
    Etambutol bersifat bakteriostatik. Obat ini tetap menekan   pertumbuhan kuman tuberculosis yang telah resisten terhadap isoniazid dan streptomisin.
a. Mekanisme kerja
    Etambutol bekerjanya menghambat sintesis metabolit sel sehingga metabolisme sel terhambat dan sel mati.
b. Efek samping
    Etambutol jarang menimbulkan efek samping. Dosis harian sebesar 15 mg/kg BB menimbulkan efek toksis yang minimal. Pada dosis ini kurang 2% pasien akan mengalami efek samping yaitu penurunan ketajaman penglihatan, ruam kulit dan demam.


c. Farmakokinetik
    Pada pemberian oral sekitar 75-80% etambutol di serap dari saluran cerna. Kadar puncak dari plasma di capai dalam waktu 2-4 jam setelah pemberian. Dosis tunggal 15 mg/kg BB menghasilkan kadar plasma sekitar 5 ml pada 2-4 jam.
4. Pirazinamid
    Analogon pirazin dari nikotinamida ini (1952) bekerja bakterisid pada suasana asam atau bakteriostatik, tergantung pada pH dan kadarnya di dalam darah. Spektrum kerjanya sangat sempit dan hanya meliputi M.tuberculosis.
a. Mekanisme kerja
    Berdasarkan pengubahannya menjadi asam pirazinat oleh enzim pyrazinamidase yang berasal dari basil TBC. Begitu pH dalam makrofag di turunkan, maka kuman yang berada di “sarang” infeksi yang menjadi asam akan mati .
b. Efek samping
    Kerusakan hati dengan ikterus (hepatotoksis) terutama pada dosis diatas 2 g sehari. Dapat pula menimbulkan serangan encok (gout) juga gangguan pada lambung-usus, fotosensibilisasi, artralgia, demam, malaise dan anemia, juga menurunkan kadar gula darah.
c. Famakokinetik
    Reabsorpsinya cepat & sempurna, kadar maksimal dalam plasma dicapai dalam waktu 1-2 jam . Distribusinya ke jaringan dan cairan serebrospinal baik. Kurang lebih 70% pirazinamida diekskresikan lewat urin.
5. Streptomisin
    Suatu aminoglikosida , diperoleh dari Streptomyces griseus (1944), senyawa ini bersifat bakterisid terhadap banyak kuman  Gram negatif  dan Gram positif.
a. Mekanisme kerja
    Berdasarkan penghambatan sintesa protein kuman dengan jalan pengikatan pada RNA ribosomal. Antibiotik ini toksis untuk organ pendengaran dan keseimbangan.

b. Efek samping
   Gangguan penglihatan berupa Neuritis optica (radang saraf mata) dan bersifat reversible bila pengobatan dihentikan. Sebaiknya jangan diberikan pada anak kecil, karena kemungkinan gangguan penglihatan (visus) sulit di deteksi.
c. Farmakokinetik
    Reabsorpsinya baik (75-80%) , plasma-t½ nya 3-4 jam .Ekskresinya lewat ginjal (80%).
























                                                      
BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Tuberkulosis (Tuberculosis, disingkat Tbc), atau Tb (singkatan dari "Tubercle bacillus") merupakan penyakit menular yang umum, dan dalam banyak kasus bersifat mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai strain mikobakteria, umumnya Mycobacterium tuberculosis (disingkat "MTb" atau "MTbc"). Tuberkulosis biasanya menyerang paru-paru, namun juga bisa berdampak pada bagian tubuh lainnya. Tuberkulosis menyebar melalui udara ketika seseorang dengan infeksi TB aktif batuk, bersin, atau menyebarkan butiran ludah melalui udara. Infeksi TB umumnya bersifat asimtomatik dan laten.
Penyebab utama penyakit TB adalah Mycobacterium tuberculosis, yaitu sejenis basil aerobik kecil yang non-motil. Berbagai karakter klinis unik patogen ini disebabkan oleh tingginya kandungan lemak/lipid yang dimilikinya.
Gejala penyakit TBC terbagi atas gejala umum dan gejala khusus. Adapun obat yang digunakan adalah isoniazid, rifampisin, etambutol, pirazinamid, dan streptomisin.

B.       Saran
Kami kami menyadari makalah ini tidak luput dari kesalahan, maka kami mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan pada pembuatan makalah selanjutnya.









DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI, 2006, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta.
Depkes RI, 2004, Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia, Jakarta; ISBN979-8270-46-0.
Sjamsuhidajat, R., Jong, W. 2005, Buku-Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC
PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indoneia). 2006. Tuberkulosis. Jakarta : IDI Pres Jakarta, 2005

Tidak ada komentar: