Pages

Senin, 05 April 2010

Kisah Persahabatan

Ini adalah kisah saya tentang persahabatan. Dimulai ketika saya memasuki jenjang pendidikan SMA.

Semenjak ibu kandung saya meninggal dunia pada 20 Oktober 2001, orang tua saya selalu menyuruh saya untuk pindah sekolah ke Sukabumi (Smi). Saat ibu saya meninggal, saya masih duduk di tingkat I SMP di Bekasi (Bks). Meskipun orang tua saya menyuruh saya pindah, saya menolaknya. Saya berpikir bahwa sekolah di Smi tidak menyenangkan karena harus memakai bahasa Sunda, sedangkan saya sama sekali tidak bisa bahasa Sunda meski saya keturunan Sunda. Tambah lagi saat itu saya punya seorang pacar yang tidak bisa saya lupakan.

Alasan yang tidak masuk akal, memang. Tapi akhirnya saya bisa bertahan sekolah di Bks dengan berpindah tempat tinggal bersama ayah saya. Berpindah mulai dari rumah kontrakan hingga tinggal di rumah kantor (rumah yang berfungsi sebagai kantor) milik teman ayah saya. Di sana, saya bisa belajar computer, berhubung teman ayah saya tersebut seorang master computer (designer web). Tentu saja, tempat tinggal yang berpindah tersebut disertai dengan kehidupan yang menurut saya sengsara.

Lulus SMP Juli 2004, saya tidak punya alasan lagi untuk tidak pindah ke Smi. Akhirnya saya masuk ke SMA terfavorit di Smi dengan berat hati. Saat itu, saya sudah putus dengan pacar saya dan saya pergi tanpa mengucapkan salam padanya. Di sana, saya merasa tidak betah karena saya tidak memiliki teman dan saya termasuk orang yang kuper. Tapi, setelah agak lama, saya mulai betah sekolah di sana dan mendapat beberapa teman.

* * *

Semester awal, saya memperoleh seorang teman sekaligus sahabat. Ia seorang siswi yang muslimah, berkerudung dan berkacamata. Di tingkat I, ia menjadi teman sekelas saya. Perkenalan saya dengannya diawali dengan bertanya masalah kacamata, karena saya juga memakai kacamata. Lalu, saya mulai sering bercerita tentang kehidupan saya ketika di Bks dan Jakarta (Jkt). Ternyata, saya mulai sering berkomunikasi dan bertambah dekat dengannya. Terlebih ketika saya saling curhat dengannya dan sama-sama memiliki kenangan buruk tentang ehm .. pacaran.

Sejak saat itu, saya jadi selalu ngobrol dengannya, pulang sekolah bareng meski rumahnya hanya berjarak sekitar 200 meter dari sekolah, saling telepon, hingga saling mampir ke rumah masing-masing. Pokoknya tiada hari tanpa berkomunikasi dengannya. Saya pun menganggapnya sebagai sahabat terbaik saya. Namun, bagi teman-teman saya, saya terlihat seperti sedang berpacaran sehingga saya selalu digosipkan berpacaran dengan sahabat saya tersebut.

Persahabatan saya dengannya hanya berjalan sekitar 3 bulan saja. Awal mundurnya persahabatan saya dimulai bulan September 2004. Saat itu gosip sudah menyebar ke sembilan kelas tingkat I. Saya mendapat kabar yang belum tentu benar, bahwa ada seorang siswi tingkat I yang menyukai saya. Mendengar hal tersebut, sahabat saya memaksa saya untuk menerima siswi tersebut karena ia sudah lelah digosipkan.

Saya pun merasa kesal dan jengkel pada sahabat saya. Saya sempat tidak memberi maaf saat ia meminta maaf sepulang sekolah. Tapi, begitu mengetahui bahwa ia menangis, saya jadi merasa bersalah dan saya pun bergegas pulang. Di rumah, saya langsung meneleponnya, lagi-lagi ia meminta maaf sambil menangis. Akhirnya saya memaafkannya. Itulah pertama kalinya dan merupakan kesalahan terbesar saya karena sudah membuat sahabat saya menangis.

Beberapa hari kemudian, masalah lebih besar muncul. Ada orang lain yang memfitnah saya. Ia mengirim sms pada sahabat saya, yang mengatakan bahwa saya sudah punya pacar dari tingkat II. Padahal itu tidaklah benar dan saya sudah mulai bertekad untuk tidak pacaran lagi. Ia juga mengirim pesan agar sahabat saya menjauhi saya karena saya bisa merusak citra perempuan.

Sejak kasus tersebut, akhirnya sahabat saya memutuskan untuk menjaga jarak dengan saya. Persahabatan saya pun pudar. Tidak ada lagi ngobrol akrab, tidak ada lagi pulang bareng, tidak ada lagi saling telepon, yang ada hanya bertatap muka tanpa bisa berkomunikasi lancar.

Hingga saat ini, saya tidak tahu siapa pelaku yang mengirim sms fitnah tersebut. Saya hanya bisa menduga bahwa ia adalah orang yang tidak menyukai persahabatan saya dan ingin menjauhkan saya dengan sahabat saya.

* * *

Di tingkat II tahun 2005, saya mendapat teman-teman baru karena ada pembagian kelas menjadi program IPA dan IPS. Saya masuk program IPA. Sahabat saya pun masuk program IPA tetapi berbeda kelas dengan saya. Saat itu, persahabatan saya dengannya masih pudar. Saya hanya bisa berkomunikasi dengannya untuk hal-hal yang penting saja.

Sepanjang tingkat II ini saya hanya merasakan pertemanan yang umumnya terjadi. Saya belum mendapatkan lagi teman yang bisa menjadi sahabat saya. Hanya saja, teman-teman di tingkat II ini sangat berbeda dengan teman-teman di tingkat I. Mereka sangat baik, ramah dan setia kawan, tidak bersifat berandal seperti sebagian teman-teman di tingkat I. Mereka pun memiliki kemampuan akademik tinggi dan senantiasa berpikiran kritis, maklum, saya masuk ke salah satu kelas unggulan generasi pertama. Mereka pun saling membantu dan tidak diam saja terhadap temannya yang tertinggal, baik secara administrative maupun akademik. Hebatnya, mereka sangat berbeda jika sudah bercanda. Mereka menjadi orang yang gila canda, wajah mereka jadi terlihat bodoh, tidak seperti wajah mereka yang sedang belajar, serius sebagai siswa kelas unggulan.

* * *

Di tingkat III tahun 2006, saya mulai menyadari bahwa saya akan meninggalkan teman-teman yang jujur saja, amat saya sayangi. Tapi, di saat-saat terakhir, justru persahabatan lama saya dahulu kembali terjalin baik. Sejak ulang tahunnya bulan Desember 2006, saya jadi sering meneleponnya yang bahkan lamanya mendekati dua jam. Saya pun jadi kembali sering ngobrol dengannya di sekolah, juga saling curhat. Terakhir, ia memberi saya kado ulang tahun saya pada Juni 2007. Saya dan sahabat saya tidak khawatir akan gosip, sebab gosip tersebut telah lama menghilang.

Di saat-saat terakhir pula saya mendapat sahabat lain yang mungkin hanya sebentar saja bisa menemani saya. Sahabat saya tersebut yakni seorang siswi teman sekelas saya dan empat siswi adik kelas saya di tingkat II.
Sahabat sekelas saya adalah seorang siswi yang baik, berkerudung dan bersenyum manis. Ia merupakan pengurus aktif ekskul PMR dan ia sangat betah jika sudah masuk ke ruang PMR. Awalnya saya hanya berteman biasa dengannya bahkan saya sempat sebal dengannya karena di tingkat II ia merupakan siswi yang menurut saya sangat judes. Namun, persahabatan saya dimulai ketika ia bercerita pada saya bahwa ia sedang menyukai seseorang yang juga sekelas dengannya yang berarti teman saya juga. Saya dengan senang hati membantu menyelesaikan masalah tersebut. Pada akhirnya, ia jadi sering curhat pada saya dan menjadi lebih akrab dengan saya.

Hanya saja, ia orangnya agak manja. Terbukti, ia sering minta diantar apabila ke ruang PMR dan selalu ingin agar keinginnya tercapai. Tapi saya tetap menjadi teman baiknya karena sifatnya yang baik, penyayang, meski agak pendiam. Ia senantiasa menyayangi semua teman-teman dekatnya, tapi entah apakah saya termasuk atau tidak. Sepertinya saya tidak termasuk.

Saat semester tingkat III sedang berjalan, saya diminta tolong oleh salah satu teman sekelas saya untuk membantu memberi materi Kimia kepada adik kelas. Mereka adalah anggota ekskul perpustakaan (pustakawan) dimana teman sekelas saya tersebut adalah ketuanya.

Saya tidak menolak tetapi justru menerimanya dengan senang hati. Saya pun mulai memberi materi Kimia kepada empat adik kelas tersebut. Mereka adalah siswi-siswi muslimah dari kelas unggulan yang sama dengan saya, mereka adalah generasi kedua. Mereka memiliki sifat yang cukup humoris dan yang terpenting mereka ceria dan sangat kompak.

Anehnya, mereka yang awalnya hanya saya beri materi Kimia, ternyata makin dekat dengan saya. Saya menjadi sering bertemu mereka dan setiap kali bertemu saya selalu menyempatkan diri bersama mereka. Terkadang saya bercanda, terkadang mereka curhat dan saya pun sering memberi nasihat ketika mereka ada masalah.

Saya menjadi setiap hari mengunjungi perpustakaan demi bertemu mereka. Di saat tingkat III sudah bebas dan libur pasca UAN dan UAS, saya tetap datang ke sekolah untuk bertemu mereka. Ketika mereka sedang belajar di kelas, saya tetap menunggu mereka hingga usai belajar. Saat itu, hampir setiap hari saya pulang ke rumah saat hari sudah mulai malam.

Sampai saat-saat terakhir saya sekolah di Smi, keempat adik kelas saya tersebut tetap menemani saya disaat teman-teman sekelas saya serta sahabat saya yang lain tidak hadir di sekolah. Saya sempat ikut dengan mereka berkunjun ke rumah salah seorang guru Biologi untuk acara makan-makan.

Hanya ada satu moment dimana mereka tidak menemani saya, yakni saat saya mengikuti SPMB di Cianjur. Mereka sudah libur kenaikan tingkat III. Mereka hanya memberikan surat dan semangat pada saya. Sejak saat itu, otomatis saya berpisah dengan mereka, karena saya sudah resmi menjadi alumni SMA saya. Tapi saya mengatakan pada mereka bahwa saya akan sering ke Smi untuk bertemu mereka. Tidak lupa, sebelum berpisah, saya sempat berfoto bersama mereka, ketika di rumah guru Biologi juga ketika acara perpisahan tingkat III.

Bagi saya, mereka sudah saya anggap sebagai adik saya yang saya sayangi. Kehadiran mereka terasa belum lengkap bila salah satu dari mereka tidak hadir. Merekalah salah satu factor yang membuat saya merasa betah di sekolah bahkan hingga saya merelakan diri menginap sendirian di masjid sekolah.

* * *

Kini saya sudah lulus dari SMA. Saya akan sulit untuk bertemu teman-teman dan sahabat-sahabat saya karena saya sudah terpisah cukup jauh dari mereka dengan kembali ke Jkt.

Sahabat pertama saya kuliah jurusan Psikologi di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Ia memang berkeinginan untuk menjadi seorang psikolog. Sahabat saya yang kedua kuliah di bidang kebidanan atau keperawatan. Informasi yang saya dapat, ia memilih kuliah di perguruan tinggi di Smi. Adik kelas saya masih sekolah di Smi hingga tahun ajaran 2007/2008 berakhir. Teman-teman saya kuliah di perguruan tinggi yang berbeda-beda.

Tapi, meski mereka pada akhirnya berpencar jauh, saya berharap masih bisa berkomunikasi dan bertemu dengan mereka lagi. Sebab merekalah teman dan sahabat terbaik yang pernah saya miliki yang tidak saya dapatkan ketika di SMP dulu.

Sejujurnya, saya selalu dikelilingi berbagai masalah di kehidupan saya. Tapi dengan kehadiran mereka, saya jadi merasa nyaman dan bisa bertahan menghadapi semua masalah-masalah tersebut.

Tidak ada komentar: