” Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah Saw. dengan sifat kasih sayangnya
berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak
Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan
beribadah kepada-Nya.”
Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada
orang-orang yang pernah menyiksanya, “Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang
akan kulakukan terhadapmu?” Mereka menangis dan berkata, “Engkau adalah saudara
yang mulia, putra saudara yang mulia.” Nabi Saw. bersabda, “Pergilah kalian!
Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian.”
(HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi’i).
Abu Sufyan bin Harits, sepupu beliau, lari dengan membawa semua
anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul Saw., maka Ali bin Abi Thalib Ra.
bertanya kepadanya, “Hai Abu Sufyan, hendak pergi kemanakah kamu?” Ia menjawab,
“Aku akan keluar ke padang sahara. Biarlah aku dan anak-anakku mati karena
lapar, haus, dan tidak berpakaian.
” Ali bertanya, “Mengapa kamu lakukan itu?” Ia menjawab, “Jika
Muhammad menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi
potongan-potongan kecil.
” Ali berkata, “Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam
kepadanya dengan mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang
pernah dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, ….Demi Allah,
sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami dan sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf [12]: 91).
Abu Sufyan pun kembali kepada Nabi Saw. dan berdiri di dekat
kepalanya, lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata, Wahai
Rasulullah, ...Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami
dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf
[12]: 91).
Rasulullah Saw. pun menengadahkan pandangannya, sedang air
matanya membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya. Rasulullah
menjawab dengan menyitir firman-Nya, …Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap
kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di
antara para penyayang. (QS. Yusuf [12]: 92).
Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud bahwa
Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Bacakan al-Quran kepadaku.”
Ibnu Mas’ud berkata, “Bagaimana aku membacakannya kepada Engkau,
sementara al-Quran itu sendiri diturunkan kepada Engkau?” “Aku ingin
mendengarnya dari orang lain,” jawab beliau. Lalu Ibnu Mas’ud membaca surat
an-Nisa hingga firman-Nya, Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila
Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai
umatmu). (QS. an-Nisâ [4]: 41).
Begitu bacaan tiba pada ayat ini, beliau bersabda, “Cukup.” Ibnu
Mas’ud melihat ke arah beliau, dan terlihatlah olehnya bahwa beliau sedang
menangis.
Dalam kisah ini kita memperoleh pelajaran berharga, bahwa
Rasulullah SAW. sangat mencintai umat manusia.
Beliau sangat mengharapkan agar orang-orang kafir itu beriman.
Karena balasan kekafiran adalah neraka yang menyala-nyala. Rasulullah sendiri
pernah melihat neraka.
Beliau melihat sungguh mengerikan neraka itu. Hingga ketika
menyadari hal itu, mengalirlah airmatanya dengan deras. Abu Dzar Ra.
meriwayatkan dari Nabi SAW., bahwa beliau mendirikan shalat malam, sambil
menangis dengan membaca satu ayat yang diulang-ulangi, yaitu, Jika Engkau menyiksa
mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau juga. (QS. al-Maidah
[5]: 118).
Dan diriwayatkan saat hari kiamat tiba, beliaulah orang yang
pertama kali dibangkitkan. Yang diucapkannya pertama kali adalah, “Mana umatku?
Mana umatku? Mana umatku?” Beliau ingin masuk surga bersama-sama umatnya.
Beliau kucurkan syafaat kepada umatnya sebagai tanda kecintaan beliau terhadap
mereka. Beliau juga sering berdoa, Allahumma salimna ummati.
Ya Allah selamatkan umatku. Keadaan diri Nabi Muhammad SAW.
digambarkan Allah SWT. dalam firman-Nya, Sungguh telah datang kepadamu seorang
Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat
menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi
penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. at-Taubah [9]: 129).
Alangkah buruknya akhlak kita bila tak mencintai Nabi, sebagaimana
Nabi mencintai kita, berkorban untuk kita, dan meneteskan airmatanya untuk
kita.
Di sini, apakah kita hanya berdiam diri saat Nabi dihina, seolah
kita bukan lagi umatnya. Apakah kita rela Nabi berdakwah seorang diri dan
kemudian dilempari batu hingga berdarah-darah, sementara umatnya yang begitu
banyak hanya bisa berdiam diri?
Tangisan sang Nabi hendaknya menjadi pengingat kita, untuk lebih
mencintainya, membelanya, bahkan berkorban nyawa untuknya, sebagaimana ia telah
berkorban nyawa untuk kita agar kita selamat dari siksa neraka.
Ya Allah, berilah kami karunia untuk mecintai Nabi-Mu dan
menapaki jalannya yang lurus, bukan sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan.
Ya Allah, curahkan shalawat untuk Muhammad selama siang masih
berganti malam,
Ya Allah, curahkanlah shalawat untuk Muhammad selama ahli dzikir
dan para shalihin melantunkan dzikirnya,
Ya Allah, kumpulkanlah kami dengan Nabi kami Muhammad di Surga
Firdaus yang tinggi dan sejukkanlah pandangan dan mata hati kami dengan
melihatnya dan berilah kami kesempatan untuk minum dari telaganya, hingga kami
tidak akan haus dan dahaga selamanya.
Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad ,
atas segenap keluarga dan sahabat beliau.
Dalam linang air mata membasahi pipi
saat kutulis semua ini
Rasulullah, kami pun merindukanmu...
*****
Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan
bernilai ibadah ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar